Kabut asap Kalimantan Tengah, Kadisdik minta sekolah tak buru-buru libur

4 menit membaca View : 7
Abdul Halim
News, Pendidikan - 31 Agu 2026

INFOSENTULCITY.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi sorotan di Kalimantan Tengah. Di tengah memburuknya kualitas udara, Kepala Dinas Pendidikan setempat, Muhammad Reza Prabowo, meminta sekolah tidak terburu-buru menghentikan kegiatan belajar mengajar. Ia menekankan, penghentian sekolah bisa mengganggu program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta aktivitas kantin yang selama ini mendukung distribusi dan penyajian makanan untuk siswa.

Dalam video rapat yang beredar, Reza menyoroti konsekuensi praktis jika sekolah diliburkan. Menurutnya, dapur MBG dapat berhenti beroperasi, kantin-kantin sekolah juga ikut terdampak, dan seluruh mekanisme yang selama ini terhubung dengan kehadiran siswa berisiko tidak berjalan. Namun, ia tidak menutup mata terhadap masalah kesehatan yang menyertai kabut asap, sehingga Dinas Pendidikan tetap menyiapkan penyesuaian pembelajaran.

Alasan Kadisdik: MBG dan kantin bergantung pada aktivitas sekolah

Reza menjelaskan bahwa sekolah bukan hanya ruang berlangsungnya pelajaran, melainkan juga titik penting dalam rantai pelaksanaan MBG. Ketika kegiatan sekolah dihentikan, proses yang biasanya berlangsung di lingkungan sekolah ikut berhenti atau perlu diubah. Ia menilai, keputusan meliburkan tidak sekadar memengaruhi jadwal belajar, tetapi juga berdampak pada pekerjaan dan aktivitas yang berkaitan dengan dapur MBG serta operasional kantin.

Ia juga mengingatkan kemungkinan dampak sosial ketika siswa tidak berada di sekolah. Menurutnya, libur bisa mendorong anak-anak berada di tempat lain yang tidak selalu aman, misalnya berkumpul di kafe-kafe, yang kemudian memunculkan persoalan baru bagi orang tua maupun pihak terkait.

Reza menegaskan bahwa jika sekolah diliburkan, dapur MBG dan kantin-kantin akan ikut berhenti beraktivitas, sehingga perlu dipertimbangkan dengan matang sebelum mengambil keputusan.

Penyesuaian jam belajar tetap disiapkan, bukan pembatalan total

Meskipun meminta sekolah tidak langsung meliburkan, Dinas Pendidikan menyiapkan langkah adaptasi untuk menghadapi kondisi kabut asap. Reza menyebut pengaturan jam masuk siswa menjadi pukul 08.00 WIB. Selain itu, durasi pembelajaran juga akan dipersingkat, yakni sekitar 30 menit untuk setiap jam pelajaran.

Penyesuaian ini diposisikan sebagai jalan tengah, agar pendidikan tetap berjalan sambil mengurangi paparan terhadap lingkungan yang kualitas udaranya tidak ideal. Dengan skema tersebut, sekolah diharapkan tetap dapat memenuhi kewajiban pembelajaran, tetapi ritmenya diatur agar lebih sesuai dengan situasi lapangan.

Perdebatan muncul karena risiko kesehatan anak-anak

Meski penyesuaian jadwal dimaksudkan sebagai solusi, kebijakan yang tetap menjalankan sekolah di tengah kabut asap memunculkan perdebatan. Keberatan utama datang dari aspek kesehatan, karena kabut asap karhutla dapat menurunkan kualitas udara dan berpotensi menimbulkan risiko, terutama bagi anak-anak yang lebih rentan terhadap gangguan pernapasan.

Dalam situasi seperti ini, keputusan sekolah tidak bisa hanya mempertimbangkan kelangsungan program, tetapi juga harus membaca kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing. Apabila parameter udara menunjukkan tingkat bahaya yang tinggi, pembelajaran perlu disesuaikan lebih jauh, misalnya melalui pembelajaran dari rumah atau pengaturan aktivitas yang lebih ketat.

Keselamatan siswa menjadi prioritas, pendidikan tetap harus terjamin

Secara prinsip, keselamatan warga sekolah harus ditempatkan sebagai prioritas ketika terjadi kondisi darurat akibat karhutla. Pada saat yang sama, hak siswa untuk mendapatkan pendidikan tetap perlu dijaga agar tidak terjadi putusnya layanan belajar secara berkepanjangan.

Karena itu, pendekatan yang lebih fleksibel diperlukan. Penyesuaian jam belajar dapat menjadi opsi awal, sementara pembelajaran dari rumah atau perubahan skema kegiatan bisa menjadi alternatif bila kualitas udara dinilai tidak memungkinkan aktivitas normal. Dengan cara ini, sekolah tidak terjebak pada pilihan hitam-putih antara libur penuh atau belajar tanpa perubahan.

MBG tetap berjalan, tetapi mekanisme harus mengikuti kondisi

Gagasan agar MBG tetap berjalan ketika sekolah tidak diliburkan menjadi salah satu titik fokus dalam pernyataan Reza. Program MBG membutuhkan keberadaan sekolah sebagai salah satu titik distribusi makanan kepada siswa. Jika sekolah berhenti beroperasi, maka mekanisme distribusi juga perlu disesuaikan agar program tidak terputus.

Namun, keberlangsungan MBG tidak boleh mengalahkan aspek keselamatan. Artinya, ketika kondisi udara memburuk, pengambilan keputusan terkait jam belajar, distribusi, dan aktivitas kantin harus mempertimbangkan risiko kesehatan. Penyesuaian dapat dilakukan melalui pengaturan jadwal, pengurangan durasi kegiatan, atau penyesuaian layanan sesuai arahan otoritas terkait.

Ke depan, tantangan utamanya adalah memastikan kebijakan yang dipilih benar-benar seimbang, antara kebutuhan pendidikan dan perlindungan kesehatan siswa. Dengan kabut asap yang dapat berubah cepat, sekolah juga perlu memiliki rencana respons yang adaptif, termasuk pembaruan informasi kualitas udara dan koordinasi lintas pihak agar keputusan dapat diambil secara cepat dan tepat.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x