
INFOSENTULCITY.ID – Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok atau sembako di pasar tradisional Kota Bogor masih bergerak naik-turun, membuat warga perlu lebih teliti saat berbelanja. Berdasarkan data harga pangan di Bogor per 7 September 2026, beras berada di kisaran Rp16.600 per kilogram, sementara cabai rawit menjadi komoditas yang paling menarik perhatian karena harganya mencapai sekitar Rp67.500 per kilogram.

Perbedaan harga juga terlihat antar-lokasi pasar. Di Pasar Anyar, harga beras tercatat mencapai Rp17.300 per kilogram, sedangkan di Pasar Jambu Dua berada pada angka Rp15.900 per kilogram. Kondisi ini berdampak langsung pada pola belanja rumah tangga, terutama keluarga yang biasanya membeli dalam jumlah lebih banyak untuk kebutuhan harian.
Pergerakan harga terjadi pada beberapa komoditas utama, tidak hanya beras. Selain beras, masyarakat juga menyoroti harga cabai, bawang, telur, hingga minyak goreng yang dinilai ikut berubah mengikuti kondisi pasokan dan permintaan. Ketika harga salah satu komoditas beranjak naik, pembeli biasanya akan menyesuaikan jumlah belanja, bahkan mengubah prioritas menu harian.
Di tingkat konsumen, fluktuasi ini terasa karena kebutuhan pangan termasuk pos pengeluaran yang relatif rutin. Bahkan selisih harga yang tampak kecil di satu komoditas bisa menjadi lebih besar dampaknya jika dikalikan dengan jumlah pembelian harian atau mingguan.

Cabai rawit menjadi komoditas dengan harga paling tinggi dan paling sering dikeluhkan. Kenaikan harga cabai rawit turut dirasakan pedagang di pasar tradisional. Perubahan harga dari pemasok membuat pedagang perlu menyesuaikan harga jual agar tetap sejalan dengan biaya yang harus dikeluarkan.
Seorang pedagang menjelaskan bahwa saat harga cabai dari pemasok naik, mereka juga harus mengubah harga yang ditawarkan kepada konsumen. Ia menambahkan bahwa pembeli banyak mengeluhkan karena biasanya membeli dalam jumlah lebih banyak, namun kini cenderung mengurangi kuantitas belanja.
“Harga cabai memang sekarang cukup tinggi. Dari pemasok harganya sudah naik, jadi kami juga harus menyesuaikan harga jual. Pembeli juga banyak yang mengeluhkan karena biasanya mereka beli lebih banyak, sekarang jadi dikurangi,” kata salah satu pedagang.
Selisih harga beras antar-pasar menunjukkan bahwa pembeli tidak bisa mengandalkan satu patokan harga saja. Ibaratnya, ketika harga di satu pasar lebih tinggi, pembeli bisa mempertimbangkan untuk membandingkan ke pasar lain atau menyesuaikan strategi pembelian, misalnya membeli lebih sedikit terlebih dahulu.
Iren, salah satu pembeli, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terasa langsung karena menyangkut kebutuhan sehari-hari. Ia menyebutkan biasanya membeli satu kilogram cabai, tetapi ketika harga meningkat pembelian bisa berubah menjadi lebih sedikit. Ia juga memilih untuk membandingkan harga di beberapa pedagang sebelum memutuskan membeli.
“Kalau harga naik, terasa sekali, apalagi kebutuhan sehari-hari. Biasanya beli satu kilogram cabai, sekarang mungkin dikurangi. Jadi sebelum belanja saya coba bandingkan harga di beberapa pedagang,” kata Iren.
Perbedaan harga seperti ini biasanya lebih terasa pada keluarga yang membeli kebutuhan pokok dalam jumlah besar. Ketika biaya produksi atau distribusi ikut bergerak, harga di lapangan bisa berbeda-beda tergantung akses pasokan, karakter pasar, serta kecepatan penyesuaian pedagang terhadap perubahan biaya.
Selain cabai rawit dan beras, masyarakat juga masih memantau pergerakan harga komoditas lain seperti bawang, telur, dan minyak goreng. Komoditas-komoditas tersebut berperan dalam berbagai jenis masakan harian, sehingga perubahan harga pada salah satu komponen bisa memengaruhi komposisi belanja.
Minyak goreng, telur, dan bawang umumnya menjadi bagian dari daftar belanja yang tidak mudah ditinggalkan. Ketika harga berubah, warga sering melakukan penyesuaian, misalnya mengganti merek, mengurangi jumlah, atau memilih waktu belanja ketika harga relatif lebih rendah.
Pemerintah terus menjalankan upaya stabilisasi harga pangan, salah satunya melalui program Gerakan Pangan Murah. Program ini ditujukan agar masyarakat dapat memperoleh bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau, sehingga beban pengeluaran rumah tangga bisa ditekan.
Langkah stabilisasi seperti ini penting karena fluktuasi harga sembako dapat terjadi secara bertahap, dipicu perubahan pasokan maupun biaya distribusi. Ketika program penyeimbang hadir, diharapkan masyarakat memiliki alternatif belanja dengan harga yang lebih bersahabat, terutama untuk komoditas yang sedang mengalami kenaikan.
Hingga saat data harga pangan per 7 September 2026 menunjukkan variasi di sejumlah komoditas, warga tetap perlu mencermati perbandingan harga antar-pedagang dan antar-pasar sebelum memutuskan jumlah belanja.






Tidak ada komentar