
INFOSENTULCITY.ID – Seorang pria berusia 45 tahun, Mamit, ditemukan meninggal dunia di dasar sumur sedalam 10 meter di Kampung Jati, Desa Parung, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jumat 28 Agustus 2026. Kejadian berawal saat korban sedang melakukan penggalian dan diduga terpeleset atau terjatuh ke dalam sumur sekitar pukul 13.35 WIB.

Peristiwa ini dilaporkan warga melalui Call Center 112 pada pukul 14.00 WIB. Begitu mendapat informasi, tim penyelamat bergerak cepat dan tiba di lokasi sekitar pukul 14.10 WIB untuk melakukan asesmen, termasuk memastikan kondisi di dalam sumur yang berpotensi membahayakan petugas.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran, Yudi Santosa, menyampaikan bahwa korban yang meninggal bernama Mamit, warga Desa Waru, Parung. Saat tim melakukan pemeriksaan awal, mereka mendapati indikasi gas beracun di dalam sumur. Kondisi ini membuat proses penanganan harus dilakukan dengan prosedur ketat karena ruang kerja yang sempit, kedalaman sekitar 10 meter, serta risiko paparan gas bagi siapa pun yang turun atau mendekat.
Yudi menjelaskan bahwa korban berada di dasar sumur dalam kondisi meninggal. Dengan adanya gas beracun, petugas tidak bisa menempuh pendekatan biasa. Mereka perlu menyiapkan peralatan keselamatan lengkap agar proses evakuasi berjalan terkontrol dan personel tetap terlindungi.

Tim penyelamatan dari Sektor Mako Cibinong dan Sektor Parung kemudian mengamankan area sekaligus mempersiapkan perlengkapan. Evakuasi berlangsung sekitar 30 menit dengan metode mountaineering menggunakan sistem haulin. Teknik ini dipilih karena medan vertikal dan kedalaman sumur yang cukup signifikan, sehingga penarikan korban harus dilakukan bertahap.
Peralatan yang digunakan antara lain tripod, tali karmantel, webbing, serta SCBA. SCBA menjadi bagian penting karena berfungsi melindungi petugas dari paparan gas beracun saat bekerja di lingkungan berisiko. Dengan sistem penarikan bertahap, petugas dapat meminimalkan kontak langsung dengan kondisi di dalam sumur dan menjaga keselamatan selama proses berlangsung.
“Fokus utama adalah keselamatan, baik keselamatan korban maupun personel,” tegas Yudi Santosa.
Selain menyiapkan peralatan evakuasi, tim juga melakukan koordinasi dengan unsur Pol PP, Polsek, RT dan RW, serta warga sekitar. Koordinasi ini diperlukan untuk pengamanan lokasi, pengaturan akses, serta memastikan jalur penanganan berjalan lancar dari tahap pengangkatan hingga penyerahan ke pihak medis.
Setelah proses pengambilan selesai, jenazah korban diserahkan kepada petugas medis dan kemudian dibawa ke RS Sehat Terpadu. Proses ini menunjukkan bahwa penanganan darurat tidak berhenti pada evakuasi, tetapi berlanjut pada tahapan medis sesuai prosedur.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan di tempat terbatas seperti sumur memiliki risiko tinggi, bukan hanya karena kemungkinan jatuh, tetapi juga karena potensi gas beracun yang tidak terlihat dari permukaan. Yudi mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati ketika melakukan aktivitas penggalian atau pekerjaan sejenis.
Ia menekankan agar pekerja menggunakan alat pelindung diri dan memastikan sirkulasi udara aman. Jika terjadi kondisi darurat, warga diminta segera menghubungi 112 karena layanan tersebut siap 24 jam untuk membantu respon awal.






Tidak ada komentar