Mirelle Aurellia tampil di Paris Fashion Week 2026 untuk Chanel Spring/Summer 2027

5 menit membaca View : 12
Abdul Halim
Gaya Hidup, News - 08 Okt 2026

INFOSENTULCITY.ID – Mirelle Aurellia, model asal Indonesia, melangkah ke panggung Paris Fashion Week 2026 setelah terpilih menjadi salah satu wajah yang mempresentasikan koleksi Spring/Summer 2027 Chanel. Peragaan berlangsung pada Senin, 5 Oktober 2026, di Grand Palais, Paris, dan menghadirkan 83 look dalam satu rangkaian acara.

Di panggung tersebut, Mirelle tidak hanya berjalan sebagai model, tetapi juga ikut membantu merumuskan gagasan Matthieu Blazy untuk Chanel, yang saat itu memasuki tahun kedua memimpin arahan artistik. Kehadirannya menjadi bagian dari penerjemahan visi kreatif, sekaligus menunjukkan bagaimana jejak kariernya dari Yogyakarta dan Jakarta dapat bertemu dengan standar kerja industri mode global.

Perjalanan Mirelle Aurellia dari Yogyakarta ke Jakarta, lalu menembus Paris

Perjalanan Mirelle berawal dari Yogyakarta. Saat menginjak usia 17 tahun, ia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan hidup dan mengembangkan karier. Meski berada di kota yang berbeda, Yogyakarta tetap ia jadikan “rumah”, tempat ia kembali untuk memulihkan energi. Di sela kesibukan, ia juga menempatkan waktu bersama keluarga dan kebiasaan menikmati makanan lokal sebagai penyeimbang ketika jadwal kerja kembali padat.

Memori masa kecilnya banyak terkait dengan suasana alam, terutama momen di pegunungan bersama keluarga. Ketika ia mulai membangun citra profesional, nuansa tersebut tampak ikut membentuk cara ia mengekspresikan diri, dari ketenangan saat berpose hingga ketegasan saat menampilkan karakter busana. Pola itu relevan dengan tuntutan industri fashion yang sering mengandalkan konsistensi visual, bukan hanya kemampuan berjalan di runway.

Portofolio Indonesia: kolaborasi desainer hingga fashion story di Bali

Sebelum masuk ke panggung internasional, Mirelle lebih dulu membangun portofolio melalui kolaborasi dengan sejumlah desainer. Wajahnya pernah hadir dalam karya Sapto Djojokartiko, Monica Ivena, Lisa Ju, Sebastian Gunawan, dan Denny Wirawan. Tahap ini penting karena membentuk fondasi adaptasi, mulai dari kebutuhan styling yang beragam hingga cara mempertahankan ekspresi sesuai karakter rancangan.

Di ranah editorial, Mirelle juga menampilkan peran yang lebih luas. Ia tercatat menjadi model utama dalam sebuah fashion story yang dipotret Kenza Le Bas di Bali, dengan rancangan dari beberapa rumah mode internasional, yaitu Elie Saab, Givenchy, Balenciaga, Hermès, dan Zuhair Murad. Keragaman merek yang dikenakan memperlihatkan rentang visual yang bisa ia bawa, dari gaya yang cenderung halus sampai tampilan yang terasa lebih tegas.

Fokus ke karier global: tinggi 177 cm dan dukungan IMG Models Paris

Dalam konteks kerja internasional, Mirelle disebut memiliki tinggi sekitar 177 sentimeter dan karakter wajah yang tegas. Kombinasi ini sering menjadi nilai tambah karena membantu model menyesuaikan proporsi saat mengenakan busana dengan konstruksi berbeda, dari siluet yang kaku hingga potongan yang lebih mengikuti tubuh.

Selain faktor fisik dan kemampuan profesional, ada pula dukungan manajemen yang menempatkan Mirelle dalam ritme kerja global. IMG Models Paris disebut berperan mendampingi aktivitas profesionalnya di kancah internasional, sehingga peluang untuk tampil di panggung besar seperti Paris Fashion Week bisa terwujud secara terarah.

Look Chanel Spring/Summer 2027: tweed, belt croco emas, dan aksen anting persegi

Ketika Paris Fashion Week 2026 berlangsung, Mirelle tampil sebagai model pada peragaan Chanel untuk koleksi Spring/Summer 2027. Untuk penampilannya, ia mengenakan setelan tweed berupa blazer abu-abu bermotif zig-zag merah. Pada bagian pinggang, ada detail belt bernuansa croco emas yang melingkari tubuh, sementara shoulder bag cokelat menutup rangkaian aksesori agar siluet tetap terjaga.

Detail tersebut diperkuat dengan sepasang anting berbentuk persegi panjang yang memberi aksen tegas pada keseluruhan look. Dari sisi styling, pilihan aksesori ini terlihat sebagai cara untuk menyeimbangkan pola tweed yang kuat dengan elemen yang lebih geometris pada bagian wajah. Hasilnya, karakter busana tetap menonjol tanpa menghilangkan fokus pada garis bentuk yang dibangun di runway.

Arah kreatif Matthieu Blazy: merangkum 12 bulan, lalu membuka ruang kebebasan bentuk

Di balik peragaan, Matthieu Blazy membawa Chanel menuju fase yang terasa lebih bebas. Ia merangkum berbagai kode yang sempat dibangun sepanjang 12 bulan terakhir, lalu membuka arah baru yang tetap bertaut pada identitas rumah mode. Salah satu titik pijaknya adalah inspirasi kembali ke Gabrielle “Coco” Chanel, yang dibaca melalui foto-foto pendiri dan disusun dalam mood board.

Narasi gaya itu kemudian dibaca ulang dari perjalanan tailoring Edwardian yang kaku, ketertarikan Chanel pada pakaian yang dikenakan para kekasih, hingga lahirnya tweed suit yang kemudian menjadi ikon. Di runway, siluet boxy hadir berdampingan dengan busana yang mengikuti lekuk tubuh. Variasi ini terlihat dari pilihan busana seperti knit transparan hingga corset top berhiaskan mutiara yang dipadukan dengan celana hitam berpotongan maskulin.

Tweed dan kenyamanan: material stretch, patchwork, dan permainan motif yang berani

Rangkaian busana di Grand Palais memperlihatkan tweed hadir dalam banyak bentuk potongan. Jaket muncul dari opsi cropped bermotif grafis sampai patchwork, bahkan ada detail yang menyerupai korset. Selain itu, koleksi juga memunculkan gaun coat warna ivory yang memberi kesan minimalis, lalu permainan motif yang saling bertabrakan agar napas koleksi terasa lebih berani. Siluet yang ditampilkan mencakup tutu, gaun parachute bermotif awan, hingga busana berkilau yang mengingatkan pada langit malam.

Yang menarik, interpretasi baru Chanel suit juga menggunakan material stretch. Pendekatan ini mempertahankan tampilan tweed sekaligus menghadirkan kenyamanan yang lebih dekat dengan karakter sportswear. Dengan cara itu, peragaan pada Senin, 5 Oktober 2026, tidak berhenti pada penyajian busana sebagai objek visual, melainkan menyusun dialog antara kode klasik dan kebebasan bentuk yang lebih kontemporer, termasuk lewat perpaduan siluet dan material yang lebih adaptif.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x