KAI Commuter: Lintas Bogor Jadi Jalur Terpadat Commuter Line hingga Triwulan III 2026

3 menit membaca View : 3
Abdul Halim
Ekonomi, News - 06 Okt 2026

INFOSENTULCITY.ID – KAI Commuter mencatat lintas Bogor menjadi jalur dengan volume pengguna tertinggi di layanan Commuter Line Jabodetabek hingga triwulan III 2026. VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyampaikan bahwa lebih dari 119,38 juta pengguna tercatat di lintas tersebut, setara 43,98 persen dari total penumpang seluruh lintas.

Angka itu diungkap Karina dalam keterangan tertulis pada Senin, 5 Oktober 2026. Ia menyebut, sepanjang Januari hingga September 2026 jumlah pengguna Commuter Line naik 6,25 persen dibanding periode yang sama tahun 2025, sementara jika dibandingkan dengan 2024 kenaikannya lebih dari 12,24 persen. Pada triwulan III 2026, mobilitas pengguna juga masih didominasi hari kerja.

Lintas Bogor memimpin, kontribusinya hampir setengah total penumpang

Dominasi lintas Bogor terlihat dari komposisi penumpangnya yang jauh lebih besar dibanding lintas lain. Karina menjelaskan bahwa pada triwulan III 2026 volume pengguna di Jabodetabek menyentuh 271.480.006 orang, dengan lintas Bogor menyumbang 119,38 juta penumpang. Dengan porsi 43,98 persen, lintas ini menjadi penopang utama pergerakan harian masyarakat yang bergantung pada kereta komuter.

Lonjakan pengguna pada jalur tertentu biasanya berkaitan dengan pola kerja dan sekolah yang terkonsentrasi di wilayah penyangga Jakarta serta akses antarkota yang terus diperkuat. Ketika satu lintas menampung porsi besar penumpang, konsekuensinya bukan hanya soal jumlah, tetapi juga soal kepadatan di jam sibuk, kebutuhan kapasitas, serta ketepatan layanan agar waktu tempuh tetap terjaga.

Kenaikan pengguna Januari-September 2026, kepercayaan publik ikut terbaca

Karina menyebut pertumbuhan pengguna sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 6,25 persen dibanding periode yang sama di 2025. Bila dibandingkan dengan 2024, kenaikannya lebih dari 12,24 persen. Ia menilai kenaikan tersebut menunjukkan masyarakat makin percaya terhadap layanan transportasi publik ini.

Kepercayaan publik biasanya tercermin dari konsistensi pengalaman penumpang, mulai dari ketepatan jadwal, kemudahan akses informasi, hingga kenyamanan saat menunggu maupun naik-turun di stasiun. Ketika pertumbuhan berlanjut pada rentang waktu yang panjang, artinya bukan hanya efek musiman, melainkan adanya pergeseran kebiasaan mobilitas yang cenderung bertahan.

Hari kerja jadi motor perjalanan, rata-rata Senin-Jumat lebih tinggi

Karina juga menyoroti komposisi perjalanan pada triwulan ketiga. Mobilitas pengguna pada hari kerja masih lebih tinggi dibanding akhir pekan. Rata-rata penumpang dari Senin hingga Jumat sekitar 1,09 juta perjalanan per hari, atau 34,69 persen lebih tinggi daripada rata-rata akhir pekan yang sekitar 811,6 ribu perjalanan per hari.

Perbedaan ini menggambarkan fungsi utama Commuter Line sebagai moda untuk aktivitas rutin, terutama pekerjaan dan pendidikan. Dampaknya terasa pada pengaturan kapasitas, distribusi petugas di stasiun, hingga strategi penjadwalan agar lonjakan pada hari kerja dapat dilayani tanpa mengorbankan kenyamanan.

Lintas Rangkasbitung dan Tangerang ikut tumbuh, Green Line dan Brown Line meningkat

Selain lintas Bogor, Karina menyebut lintas lain juga mengalami pertumbuhan pada triwulan III 2026 dibanding periode tahun lalu. Ia mencontohkan layanan Commuter Line Rangkasbitung atau Green Line serta layanan Commuter Line Tangerang atau Brown Line.

Green Line naik 7,08 persen dengan tambahan pengguna hingga mencapai 60,92 juta lebih pengguna. Sementara itu, Brown Line tumbuh 7,8 persen dengan 21,47 juta lebih pengguna. Pola kenaikan pada lebih dari satu lintas menunjukkan permintaan yang menyebar, bukan hanya terpusat di jalur tertentu.

Implikasi bagi layanan dan prasarana, KAI Commuter terus meningkatkan

Seiring peningkatan jumlah pengguna, KAI Commuter menyatakan bersama pihak terkait akan terus mengupayakan peningkatan layanan dan prasarana Commuter Line di seluruh lintas tersebut. Fokus pada prasarana menjadi penting ketika volume penumpang terus bertambah, karena peningkatan kapasitas dan kualitas layanan perlu berjalan beriringan.

Bagi warga yang menggunakan kereta komuter, perubahan seperti ini biasanya berujung pada penguatan operasional di stasiun, penyesuaian layanan untuk menekan antrean, serta upaya menjaga ritme perjalanan agar penumpang tetap bisa mengandalkan moda ini untuk aktivitas harian. Ketika satu jalur seperti lintas Bogor memegang porsi besar, peningkatan layanan di titik-titik paling padat akan sangat berpengaruh pada pengalaman pengguna.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x