Dedie A. Rachim Dorong Perbaikan SPPG Bogor untuk MBG

3 menit membaca View : 4
Abdul Halim
Bogor, News - 22 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Pemerintah Kota Bogor mendorong pembenahan pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai prasyarat agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat beroperasi secara layak. Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menekankan bahwa perbaikan tidak berhenti pada pemenuhan nutrisi, melainkan juga mencakup kebersihan, keamanan pangan, hingga tata cara penyajian.

Dalam penjelasannya, Dedie menegaskan pengelola dapur yang bekerja melalui SPPG memikul tanggung jawab besar karena MBG menyasar ribuan anak sekolah secara massal. Karena itu, standar higienitas yang ketat dipandang penting untuk mencegah risiko keracunan makanan dan menjaga mutu gizi yang diterima penerima manfaat.

SPPG untuk MBG, fokus layanan bukan hanya nutrisi

Dedie menyebut bahwa pembenahan SPPG di Kota Bogor diarahkan agar manajemen layanan berjalan lebih baik. Salah satu ukuran yang ingin dicapai adalah kepuasan penerima manfaat, yang berkaitan langsung dengan kualitas layanan yang mereka rasakan setiap kali makanan disajikan.

Menurutnya, pengelolaan SPPG harus menyentuh seluruh rantai proses. Lingkungan dapur pengolahan makanan, cara penanganan bahan, hingga bagaimana makanan ditata saat disajikan, menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan. Ia mengaitkan aspek-aspek tersebut dengan standar layanan yang seharusnya diterapkan agar makanan yang diterima sesuai harapan.

Dedie juga menyebut beberapa poin yang kerap menjadi perhatian dalam program MBG, seperti kebersihan dan sanitasi, kerapian penyajian, variasi menu harian, serta mutu makanan secara menyeluruh. Dengan pendekatan ini, program tidak hanya mengejar terpenuhinya kandungan gizi, tetapi juga membangun rasa aman dan kenyamanan bagi siswa.

SLHS dan IPAL jadi syarat operasional SPPG

Selain aspek layanan, Pemkot Bogor mendorong kelengkapan perizinan operasional SPPG. Salah satu yang ditekankan adalah Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan. Dedie juga menyinggung kebutuhan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pada skala SPPG sebagai bagian dari kesiapan fasilitas pendukung.

Ia menegaskan bahwa seluruh SPPG yang belum memenuhi syarat seperti SLHS dan kelengkapan IPAL harus segera menyelesaikan kekurangan tersebut. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah menempatkan kepatuhan terhadap standar kesehatan dan pengelolaan lingkungan sebagai fondasi sebelum layanan berjalan penuh.

“Semua SPPG di Kota Bogor yang belum secara lengkap memenuhi syarat-syarat seperti SLHS, termasuk juga IPAL skala SPPG, diselesaikan,” kata Dedie A. Rachim.

Keresahan warga mendorong percepatan perbaikan

Desakan pembenahan SPPG, menurut Dedie, muncul karena adanya keresahan dan kekhawatiran masyarakat terkait potensi risiko kesehatan. Ia menyebut kekhawatiran yang beredar di lingkungan warga, terutama terkait kemungkinan terjadinya keracunan makanan.

Di luar isu kesehatan, Dedie juga menyoroti kekhawatiran lain yang berkaitan dengan kesesuaian penyajian. Masyarakat, ujarnya, merasa cemas bila makanan tidak sesuai dengan harapan anak-anak, termasuk soal porsi atau penampilan saat disajikan.

Fenomena kekhawatiran tersebut membuat pemerintah perlu memastikan tata kelola dapur MBG lebih transparan dan terstandar. Dengan begitu, risiko-risiko yang dikhawatirkan dapat diminimalkan, sementara rasa aman di kalangan siswa dan orang tua penerima manfaat dapat diperkuat.

Target kepuasan dan standar dapur yang terukur

Dedie berharap standarisasi yang diterapkan pada SPPG dapat menjadi cara untuk memperbaiki kualitas layanan MBG. Ia mengaitkan manajemen yang baik dengan tata kelola dapur yang terarah, sehingga layanan yang diterima tidak menimbulkan kekhawatiran baru.

Ia juga menyampaikan bahwa ada sejumlah poin yang telah ditetapkan, dan proses penyelesaian kelengkapan masih perlu dikejar. Dengan pendekatan itu, pemerintah menempatkan perbaikan SPPG sebagai pekerjaan yang harus tuntas, bukan sekadar memenuhi administrasi.

Untuk program berskala besar, konsistensi standar menjadi kunci. Saat dapur pengolahan, sanitasi, serta tata cara penyajian berjalan sesuai ketentuan, maka kualitas layanan dapat lebih terjaga dari hari ke hari. Fokus pada aspek-aspek tersebut diharapkan membuat MBG berjalan lebih aman dan lebih layak diterima oleh anak sekolah.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x