Khaiqal Sahid Koordinator Aliansi BEM Se-Bogor, Mubes di UIB Tetapkan Aklamasi

4 menit membaca View : 9
Abdul Halim
News, Pendidikan - 14 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Musyawarah Besar (Mubes) Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Bogor yang berlangsung di Universitas Islam Bogor (UIB) pada 12-13 September 2026 menetapkan Presiden Mahasiswa UIB, Khaiqal Sahid, sebagai Koordinator Aliansi BEM se-Bogor. Penetapan itu dilakukan secara aklamasi setelah proses musyawarah yang melibatkan perwakilan BEM dari 30 perguruan tinggi di wilayah Bogor.

Terpilihnya Khaiqal menjadi penanda dimulainya periode kepemimpinan baru untuk wadah konsolidasi mahasiswa lintas kampus. Mubes ini tidak berhenti pada pergantian jabatan, tetapi juga menjadi ruang menyusun arah gerakan mahasiswa menghadapi persoalan di Bogor, termasuk isu pendidikan, sosial, ekonomi, pembangunan, hingga kebijakan publik.

Mubes UIB Tetapkan Khaiqal Sahid sebagai Koordinator Aliansi BEM Se-Bogor

Dalam forum yang digelar di kampus UIB, peserta Mubes sepakat memberikan mandat kepemimpinan kepada Khaiqal Sahid. Prosesnya melibatkan perwakilan dari 30 perguruan tinggi, sehingga keputusan aklamasi dipandang sebagai hasil konsolidasi aspirasi berbagai organisasi mahasiswa. Aklamasi tersebut menunjukkan adanya titik temu bahwa kebutuhan aliansi saat ini bukan hanya koordinasi administratif, melainkan penyatuan agenda yang bisa dibawa ke ruang publik.

Secara praktis, peran Koordinator Aliansi BEM se-Bogor menuntut kemampuan menyelaraskan banyak kepentingan yang datang dari latar belakang kampus berbeda. Setiap BEM memiliki karakter, program kerja, dan prioritas yang tidak selalu sama. Karena itu, mandat kepemimpinan yang diberikan kepada Khaiqal juga membawa ekspektasi agar aliansi mampu menjaga soliditas internal tanpa menghilangkan identitas masing-masing perguruan tinggi.

Aliansi BEM Diarahkan Jadi Ruang Konsolidasi Gagasan dan Aksi

Dalam pembahasan Mubes, aliansi diposisikan sebagai lebih dari sekadar tempat pertemuan rutin antar kampus. Aliansi diharapkan menjadi wadah yang mampu menumbuhkan gagasan bersama, membangun sikap yang konsisten, serta menyusun agenda yang dapat ditindaklanjuti oleh BEM-BEM anggota.

Agenda semacam ini relevan karena gerakan mahasiswa sering kali berhadapan dengan isu-isu yang melibatkan banyak sektor sekaligus. Persoalan pendidikan, misalnya, tidak hanya menyangkut kebijakan kampus, tetapi juga menyentuh kualitas akses dan keberlanjutan kesempatan belajar. Pada isu sosial dan ekonomi, mahasiswa dituntut membaca dampak kebijakan terhadap kehidupan masyarakat, bukan sekadar mengangkat kritik tanpa arah.

Prinsip Kesetaraan dan Kolaborasi Jadi Penegasan Kepemimpinan

Usai terpilih, Khaiqal menegaskan bahwa kepemimpinan Aliansi BEM se-Bogor tidak boleh ditafsirkan sebagai dominasi satu kampus atas kampus lainnya. Ia menyampaikan bahwa aliansi harus dibangun dengan prinsip kesetaraan, kolaborasi, serta penghormatan terhadap independensi masing-masing BEM.

Pernyataan tersebut penting karena struktur aliansi lintas perguruan tinggi biasanya rentan terhadap tarik-menarik pengaruh. Jika prinsip kesetaraan tidak dijaga, komunikasi antar anggota bisa melemah, dan akhirnya agenda bersama sulit diwujudkan. Dengan menekankan kolaborasi, Khaiqal mengarahkan aliansi untuk bekerja sebagai tim yang menyatukan energi, bukan sebagai arena kompetisi.

“Amanah ini bukan tentang siapa yang paling depan, tetapi bagaimana kita bisa berjalan bersama. Aliansi BEM Se-Bogor harus menjadi ruang konsolidasi gagasan, memperkuat perjuangan mahasiswa, dan hadir di tengah persoalan masyarakat,” ujar Khaiqal Sahid.

Fungsi Kajian, Advokasi, dan Pengawalan Jadi Fokus Kerja

Mubes juga menekankan kebutuhan memperkuat fungsi kajian, advokasi, dan pengawalan terhadap berbagai persoalan publik. Harapannya, sikap kritis mahasiswa tetap berjalan beriringan dengan tawaran solusi dan argumentasi berbasis data. Pendekatan ini mengubah peran mahasiswa dari sekadar penyampai opini menjadi pengusung rekomendasi yang bisa dipertimbangkan pihak terkait.

Dalam konteks Bogor, isu-isu publik umumnya bersifat kompleks dan memerlukan pemetaan yang matang. Karena itu, kemampuan melakukan kajian dan menyusun argumen berbasis data akan menentukan kualitas advokasi yang dilakukan. Ketika aliansi mampu menyajikan pertimbangan yang jelas, ruang dialog dengan pemangku kepentingan biasanya lebih terbuka.

Tantangan Koordinator, Mengubah Suara Mahasiswa Menjadi Gerakan Berdampak

Ketua KMBS, Riki Hadiwinata, menilai terpilihnya Khaiqal sebagai tantangan tersendiri. Tantangan tersebut muncul karena posisi mahasiswa tidak hanya berhenti pada aktivitas mengkritik, tetapi juga menuntut tanggung jawab intelektual untuk membaca persoalan dan menawarkan jalan keluar yang masuk akal bagi lingkungan sekitar.

Pernyataan Riki menyoroti ukuran keberhasilan kepemimpinan aliansi. Konsolidasi internal perlu dibangun, namun hasilnya harus terlihat dari kemampuan aliansi menerjemahkan suara mahasiswa menjadi gagasan yang bergerak, bukan sekadar berhenti di forum. Dengan kata lain, kerja Koordinator diuji dari seberapa jauh aliansi bisa menghasilkan program yang relevan, terukur, dan memberi dampak di masyarakat Bogor.

“Karena itu, kepemimpinan baru Aliansi BEM Se-Bogor akan diuji bukan hanya dari seberapa kuat konsolidasi internal dibangun, tetapi juga dari sejauh mana aliansi mampu menerjemahkan suara mahasiswa menjadi gagasan dan gerakan yang memiliki dampak bagi masyarakat,” paparnya.

Dengan Mubes yang berlangsung di UIB pada 12-13 September 2026, kepemimpinan Khaiqal Sahid kini menunggu pembuktian melalui kerja nyata lintas kampus. Mandat aklamasi tersebut menjadi awal bagi aliansi untuk memperkuat koordinasi, menyusun agenda strategis, serta menunjukkan keberanian mahasiswa mengambil posisi pada isu-isu yang menyentuh kehidupan warga Bogor.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x