
INFOSENTULCITY.ID – Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menerima Satya Lancana Karaton Sumedang Larang. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Sri Radya Karaton Sumedang Larang, Rd. Ikik Lukman Soemadisoerya, di Museum Geusan Ulun, Kabupaten Sumedang, pada Rabu 9 September 2026. Penganugerahan tersebut menegaskan apresiasi terhadap peran Dedie dalam mendukung pelestarian budaya Sunda, termasuk lewat rangkaian kegiatan seni dan budaya.

Dedie juga disebut sebagai kepala daerah pertama yang memperoleh Satya Lancana Karaton Sumedang Larang. Poin yang ditekankan adalah kontribusinya dalam memperkuat hubungan budaya antara Kota Bogor dan Sumedang, yang memiliki ikatan sejarah panjang. Dalam kesempatan yang sama, Karaton Sumedang Larang menyinggung rencana pembangunan Museum Pajajaran di Kota Bogor sebagai salah satu penghubung narasi sejarah dan budaya, termasuk keterkaitan dengan Sumedang Larang.
Prosesi penganugerahan berlangsung di Museum Geusan Ulun, tempat yang menjadi simbol penguatan identitas dan pengetahuan budaya. Sri Radya Karaton Sumedang Larang menyampaikan bahwa penghargaan diberikan karena Dedie dinilai turut memperkuat hubungan budaya antara Kota Bogor dan Sumedang. Penilaian itu tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan konsistensi dukungan terhadap kegiatan seni dan budaya Sunda.
Karaton juga mengaitkan penghargaan dengan jejak kontribusi Dedie saat masih menjabat sebagai Wakil Wali Kota Bogor. Salah satu momen yang disebut adalah dukungannya pada pelaksanaan perdana Kirab Binokasih tahun 2024. Kirab tersebut menjadi ruang pertemuan berbagai unsur masyarakat, sekaligus menguatkan narasi budaya yang bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain.

Dalam penyematan penghargaan, disebutkan bahwa pembangunan Museum Pajajaran di Kota Bogor memiliki keterkaitan sejarah dengan Sumedang Larang. Museum tersebut diharapkan menjadi wadah yang menghubungkan cerita masa lalu, sekaligus memperkenalkan warisan budaya Sunda kepada masyarakat luas. Salah satu elemen yang direncanakan adalah keberadaan koleksi replika Mahkota Binokasih, yang memperjelas benang merah antara tradisi dan identitas regional.
Dedie Rachim menanggapi penghargaan itu dengan menempatkannya sebagai bentuk apresiasi untuk masyarakat Kota Bogor. Ia menyampaikan bahwa penghargaan tidak hanya ditujukan kepada dirinya secara pribadi, melainkan juga kepada upaya warga dalam menjaga dan menghargai budaya Sunda. Pernyataan ini memperlihatkan cara pandang yang menempatkan kebijakan dan dukungan budaya sebagai pekerjaan bersama, bukan sekadar seremonial.
Dedie menyampaikan rasa terima kasih atas penghargaan yang diberikan oleh Karaton Sumedang Larang. Ia menekankan bahwa apresiasi tersebut sekaligus menegaskan dukungan pemerintah kota terhadap tradisi budaya Sunda, khususnya melalui sinergi dengan berbagai kegiatan yang menghidupkan ruang apresiasi seni dan budaya.
Ia juga menyebut hubungan Kota Bogor dan Sumedang sebagai ikatan sejarah yang panjang. Karena itu, penghargaan menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi serta kerja sama dalam menjaga warisan budaya. Baginya, hubungan tersebut bersifat khusus, bukan hanya hubungan administratif, melainkan hubungan kultural yang terus dirawat dari generasi ke generasi.
Dedie menegaskan bahwa penghargaan tidak semata-mata ditujukan kepada pribadi, melainkan pada bagaimana masyarakat Bogor menghargai budaya Sunda serta adanya hubungan sejarah yang panjang antara Bogor dan Sumedang.
Dedie berharap hubungan baik antara Kota Bogor dan Sumedang dapat terus terjalin dan semakin kuat ke depan. Ia menyebut pembangunan Museum Pajajaran sebagai upaya nyata untuk menjaga sekaligus mengenalkan sejarah dan budaya Sunda kepada masyarakat. Dalam penjelasannya, Museum Pajajaran diposisikan memiliki kaitan dengan Sumedang, karena masa akhir Kerajaan Pakuan Pajajaran disebut diteruskan melalui Keraton Sumedang Larang.
Pemaknaan semacam ini membuat penghargaan memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar pengakuan seremonial. Ada arah kebijakan budaya yang diharapkan berkelanjutan, melalui ruang edukasi publik seperti museum. Dengan begitu, cerita sejarah yang terhubung antara Pakuan Pajajaran dan Sumedang Larang dapat dipahami secara lebih utuh oleh masyarakat, termasuk generasi muda yang akan menjadi penerus tradisi.
Dedie menutup penyampaian pada kesempatan itu dengan harapan agar tali silaturahmi antara Sumedang dan Kota Bogor semakin diperkuat. Ia juga menegaskan bahwa pembahasan mengenai rencana pembangunan Museum Pajajaran telah menjadi bagian dari pembicaraan yang dilakukan dalam konteks penguatan kerja sama budaya.






Tidak ada komentar