
INFOSENTULCITY.ID – Penjualan masker di Kabupaten Bogor, khususnya di kawasan Cibinong, meningkat tajam menyusul imbauan penggunaan masker akibat kondisi udara yang disertai abu vulkanik pascaerupsi Gunung Anak Krakatau. Lonjakan permintaan ini tampak dari aktivitas pedagang masker keliling yang mangkal di Jalan Tegar Beriman, tepatnya di depan PDAM Kabupaten Bogor, Cibinong.

Dalam pantauan di lokasi, pedagang menawarkan beberapa varian masker yang umum dipakai untuk menyaring partikel di udara. Pedagang bernama Ridho yang berasal dari Citayam mengungkapkan bahwa penjualan hari-hari biasa sebelumnya berada di kisaran 50 sampai 60 unit, namun pada Senin, 7 Agustus 2026, angka penjualan bisa menembus lebih dari 200 unit sejak pagi. Situasi ini mulai terasa sejak sehari sebelumnya, saat banyak orang mulai mencari perlindungan tambahan.
Ridho berjualan dengan sepeda motor dan menata masker di bagian belakang kendaraan. Sebagian masker dikemas dalam boks dan ditata rapi, sementara beberapa jenis lainnya dipajang terbuka agar mudah dilihat calon pembeli yang melintas. Posisi mangkalnya di depan PDAM membuatnya cukup dekat dengan arus aktivitas warga dan pengguna jalan, sehingga produk yang ditawarkan cepat diketahui.
Ia menyebut peningkatan permintaan terjadi di luar perkiraan. Ridho mengatakan dirinya sempat libur pada hari Minggu, sehingga hasil penjualan baru terlihat pada hari Senin. Setelah kembali berjualan, ia merasakan lonjakan yang signifikan dibanding hari normal. Menurutnya, stok yang dibawa cepat berkurang karena pembeli datang dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat.

Di antara jenis yang dijual, Ridho mencatat pembeli paling banyak mencari masker duckbill, KF94, dan KN95. Dari ketiga jenis tersebut, masker yang dikemas dalam boks menjadi salah satu yang paling laris, karena pembeli cenderung mengambil dalam jumlah lebih praktis untuk persediaan di rumah.
Ridho juga menjelaskan skema harga yang ia gunakan masih mengikuti modal lama. Untuk masker dalam boks, ia menjual dengan harga Rp20.000 per boks, dengan isi 50 unit untuk jenis duckbill. Harga tersebut menjadi salah satu alasan mengapa produk cepat terjual, terutama ketika banyak orang ingin segera mendapatkan masker tanpa harus menunggu pasokan baru.
Walau permintaan meningkat, Ridho mengakui ada kendala besar dalam menambah persediaan. Ia menyatakan harga yang ia terapkan masih memakai modal lama, sementara harga masker di penjualan daring sudah mengalami kenaikan. Ia mengaku melihat harga di kanal online mencapai sekitar Rp25.000, sehingga ia merasa bingung harus menjual dengan harga baru sementara barangnya belum tentu tersedia dalam jumlah cukup.
Masalah lain muncul dari ketersediaan barang. Ridho menyebut masker yang ia jual saat ini merupakan stok sisa, bukan barang yang bisa langsung diperbarui. Ia sempat berupaya mencari tambahan stok, namun saat itu pasokan sedang kosong. Akibatnya, ketika persediaan habis, ia tidak bisa langsung mengganti barang yang sudah terjual.
Ridho merasakan perubahan perilaku pembeli mulai muncul sejak hari sebelumnya. Ia menilai kondisi tersebut berkaitan dengan imbauan penggunaan masker yang mendorong masyarakat untuk menyiapkan perlindungan pernapasan. Di lokasi yang sama, orang yang biasanya hanya melintas dengan kebutuhan harian kini lebih sering berhenti untuk membeli masker, termasuk dalam jumlah yang lebih banyak daripada biasanya.
Ia juga menuturkan bahwa upaya mencari stok tambahan tidak membuahkan hasil pada waktu itu. “Yang habis ya sudah habis, enggak ada lagi,” katanya, menggambarkan keterbatasan pedagang keliling ketika permintaan naik lebih cepat daripada kemampuan pemasok. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana perubahan lingkungan, seperti abu vulkanik, bisa langsung memengaruhi kebutuhan harian masyarakat, termasuk kebutuhan sederhana seperti masker.
Ridho menutup penjelasannya dengan menyatakan bahwa ia memang sudah mencoba mencari persediaan tambahan, tetapi ketersediaan masker yang dibutuhkan sedang tidak ada. Dengan demikian, lonjakan penjualan di Cibinong menjadi cerminan dari tingginya kebutuhan masker di tengah kekhawatiran kualitas udara pascaerupsi.






Tidak ada komentar