Api di TPA Galuga Bogor membesar, Wali Kota minta penanganan komprehensif

3 menit membaca View : 8
Abdul Halim
News, Peristiwa - 11 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Kebakaran yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, kembali menunjukkan peningkatan intensitas pada Jumat sore, 11 September 2026. Api yang semula ditangani melalui kerja gabungan semakin memunculkan titik-titik panas yang masih terlihat, sehingga upaya pemadaman dan pendinginan terus digenjot oleh tim lapangan.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menilai situasi di lokasi belum membaik secara signifikan setelah beberapa hari penanganan. Ia menyebut sejumlah titik api masih terlihat dan berpotensi membesar apabila penanganan tidak dilakukan lebih menyeluruh. Karena itu, koordinasi lintas pihak diperluas, termasuk opsi bantuan dari berbagai institusi.

TPA Galuga Bogor, titik api masih terlihat dan berisiko membesar

Menurut laporan petugas di lapangan, proses penanggulangan tidak hanya membutuhkan pemadaman, tetapi juga pendinginan berlapis agar area yang terbakar tidak kembali aktif. Dedie Rachim menyampaikan bahwa setelah lima hari penanganan, kondisi yang diterima dari lokasi menunjukkan titik-titik api yang masih membesar.

Dalam situasi seperti kebakaran TPA, tantangan sering datang dari karakter material yang terbakar serta persebaran area yang tidak selalu mudah dipantau. Karena itu, strategi yang dilakukan tidak berhenti pada pemadaman dari satu arah, melainkan perlu kombinasi manuver tim darat dan dukungan dari udara agar penyebaran panas bisa ditekan.

Pemadaman darat dan water bombing, tim gabungan terus bekerja

Upaya pemadaman melibatkan tim Pemadam Kebakaran (Damkar), BPBD, serta dukungan personel dari TNI dan Polri. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat pengendalian di titik-titik yang masih menyala sekaligus memastikan akses logistik dan jalur operasi tetap berjalan.

Di luar penanganan jalur darat, operasi pemadaman juga memanfaatkan helikopter untuk water bombing. Langkah tersebut dilakukan untuk menjangkau area yang sulit dijangkau peralatan di permukaan, terutama ketika panas masih muncul di bagian tertentu dan membutuhkan suplai air tambahan secara cepat.

Wali Kota Bogor koordinasi intensif, harapkan hujan dan dukungan teknologi

Dedie Rachim juga menyinggung faktor cuaca yang menjadi variabel penting dalam kebakaran lahan atau area berasap. Ia menyebut hujan memang membantu proses pemadaman, tetapi dengan kondisi kemarau panjang saat ini, peluang hujan secara alami dinilai kecil.

Karena itu, koordinasi dilakukan dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga pihak-pihak yang berpotensi memberi dukungan teknis. Dedie menyampaikan bahwa dirinya bersama unsur pimpinan daerah sempat melakukan rapat koordinasi, termasuk dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor, guna menyusun langkah percepatan penanganan.

BRIN, modifikasi cuaca, dan dukungan IPB untuk pemadaman

Salah satu fokus koordinasi adalah kemungkinan pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca. Dedie menyebut telah menyampaikan kondisi kebakaran TPA Galuga kepada Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, agar ada dukungan terkait opsi tersebut.

Selain BRIN, dukungan personel, logistik, dan peralatan juga dikoordinasikan melalui Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat. Di sisi lain, Institut Pertanian Bogor (IPB) disebut turut merespons kebutuhan bantuan lapangan, termasuk rencana pengiriman unit armada pemadam.

Dedie menjelaskan bahwa setelah komunikasi dengan Rektor IPB, ada rencana pengiriman beberapa unit Damkar untuk membantu proses penanganan. Ia menambahkan bahwa penanganan yang tidak dilakukan secara bersama-sama berisiko memperburuk kualitas udara, sehingga percepatan respons menjadi prioritas di malam hari.

Upaya pendinginan dan sumber air, petugas diminta menjaga semangat kerja

Dalam kondisi titik api masih terlihat, pekerjaan petugas tidak hanya berhenti pada pemadaman awal. Tim tetap diarahkan untuk memastikan sumber air tersedia dan pendistribusiannya berjalan, karena pendinginan yang kurang optimal bisa membuat panas kembali muncul.

Dedie Rachim berharap petugas tetap bersemangat dan terus mengupayakan ketersediaan air di lokasi. Ia juga menyatakan kondisi di lapangan belum berada pada kondisi yang benar-benar baik hingga malam hari, sehingga kebutuhan operasi lanjutan masih terus berlangsung dan menjadi perhatian utama.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x