Groundbreaking PSEL Bogor Raya di TPAS Galuga 17 September 2026

4 menit membaca View : 14
Abdul Halim
Bogor, News - 15 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Pemerintah Kabupaten Bogor menyiapkan groundbreaking Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Galuga pada 17 September 2026. Rencana ini muncul di tengah situasi TPAS yang masih terganggu pascakebakaran, dengan pemantauan rutin terhadap titik panas atau hotspot di lokasi.

TPAS Galuga mengalami kebakaran pada 7 September 2026. Hingga 14 September 2026 sore, masih terpantau hotspot, sehingga personel tetap disiagakan untuk penanganan sekaligus pemantauan berkala. Pada waktu yang sama, Bupati Bogor Rudy Susmanto menyatakan pembangunan PSEL Bogor Raya akan dimulai melalui peletakan batu pertama pada 17 September 2026 mendatang.

PSEL Bogor Raya dan jadwal groundbreaking di TPAS Galuga

Rudy Susmanto membenarkan bahwa proses awal pembangunan PSEL Bogor Raya akan dimulai pada 17 September 2026. Ia menekankan langkah ini sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi sistem pengelolaan sampah menuju teknologi yang lebih modern. Dalam penjelasannya, Rudy menyebut bahwa pembangunan PSEL merupakan proyek besar yang menjadi salah satu dari wilayah yang ditangani dengan pendekatan semacam ini.

Groundbreaking menjadi penanda dimulainya tahap konstruksi dan persiapan teknis di kawasan TPAS Galuga. Namun, jadwal tersebut tidak berdiri sendiri. Kondisi lapangan yang masih menyisakan hotspot membuat pemerintah perlu memastikan proses penanganan pascakebakaran berjalan stabil sebelum aktivitas pembangunan semakin intensif.

Kerentanan kebakaran dan pemantauan hotspot di TPAS Galuga

Fakta bahwa kebakaran terjadi pada 7 September 2026 dan masih ada hotspot pada 14 September 2026 memperlihatkan tantangan serius dalam pengelolaan TPAS. Hotspot biasanya mengindikasikan adanya titik bara atau sisa panas yang bisa memicu kekambuhan bila tidak ditangani sesuai prosedur. Karena itu, penyiagaan personel untuk pemantauan berkala menjadi langkah yang diperlukan agar keselamatan kerja dan keamanan lingkungan tetap terjaga.

Keberadaan hotspot juga berimplikasi pada tata kelola lokasi proyek. Area yang terdampak kebakaran perlu dipastikan aman untuk aktivitas konstruksi, termasuk terkait risiko asap, kualitas udara, serta potensi penyalaan ulang. Dengan adanya jadwal groundbreaking, koordinasi antara tim penanganan pascakebakaran dan rencana kerja proyek menjadi faktor penentu kelancaran.

Teknologi waste to energy untuk pengolahan sampah

PSEL Bogor Raya menggunakan pendekatan waste to energy yang mengubah sampah menjadi energi listrik. Pemerintah daerah menempatkan konsep ini sebagai upaya memulai sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien dibanding pola manual yang selama ini dominan. Rudy menilai penerapan teknologi modern dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang pengolahan yang lebih terukur.

Dalam konteks pengelolaan sampah, sistem waste to energy umumnya dipilih karena mampu memanfaatkan kandungan energi dari sampah. Meski demikian, implementasinya tetap membutuhkan kesiapan infrastruktur, manajemen operasi, serta pengendalian lingkungan. Rencana di Galuga karenanya bukan hanya soal pembangunan fisik, melainkan juga kesiapan tata kelola untuk menjalankan fasilitas secara berkelanjutan.

Rencana pabrik pirolisis sebagai pengolahan lanjutan

Selain PSEL, pemerintah juga menyiapkan groundbreaking pembangunan pabrik pirolisis. Pirolisis diarahkan untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar minyak, dengan salah satu produk yang disebutkan adalah solar. Rudy menggambarkan bahwa kehadiran dua fasilitas besar itu akan mengubah pola pengelolaan sampah dari yang sebelumnya dikelola secara manual menjadi dikelola secara lebih modern.

Secara operasional, keberadaan pabrik pirolisis dapat melengkapi ekosistem pengolahan sampah di kawasan Galuga. Ketika PSEL difokuskan pada produksi energi listrik, pabrik pirolisis diarahkan pada konversi sampah menjadi produk berbasis bahan bakar. Kombinasi dua teknologi ini memberi gambaran bahwa pemerintah ingin membangun model pengelolaan yang tidak berhenti di satu titik, melainkan mengarah pada pemanfaatan yang lebih beragam.

Dampak bagi masa depan pengelolaan sampah di Bogor Barat

Rudy menyebut pembangunan dua fasilitas tersebut sebagai bagian dari masa depan pengelolaan sampah Kabupaten Bogor, khususnya wilayah Bogor Barat. Pernyataan ini menunjukkan bahwa lokasi Galuga dipandang strategis untuk melayani kebutuhan pengelolaan sampah di area sekitar, sekaligus menjadi titik perubahan sistem.

Ia juga berharap keberadaan PSEL dan pabrik pirolisis dapat mendorong perubahan sistem pengelolaan sampah sekaligus mendukung konsep pembangunan berwawasan lingkungan. Harapan tersebut disampaikan sebagai komitmen pemerintah daerah untuk menyambut sistem pengelolaan modern, dengan orientasi pada Kabupaten Bogor yang mengusung konsep hijau ke depan.

Dengan jadwal groundbreaking 17 September 2026 dan kondisi TPAS yang masih dalam pemantauan hotspot, rencana pembangunan PSEL Bogor Raya dan pabrik pirolisis akan sangat bergantung pada kesiapan penanganan pascakebakaran serta pengelolaan risiko di lapangan. Langkah ini menempatkan Galuga sebagai arena transisi menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dan berbasis teknologi.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x