Defisit RAPBD Perubahan 2026 Kabupaten Bogor Capai Rp449,642 Miliar

3 menit membaca View : 24
Abdul Halim
Ekonomi, News - 14 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor memproyeksikan Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD Perubahan) Tahun Anggaran 2026 masih berada dalam tekanan fiskal. Dalam rancangan yang dibahas di DPRD Kabupaten Bogor, defisit dipatok sebesar Rp449,642 miliar setelah mempertimbangkan pembiayaan neto.

Langkah ini muncul karena kebutuhan belanja daerah diperkirakan lebih besar dibandingkan proyeksi pendapatan. Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyampaikan bahwa perbedaan antara pendapatan dan belanja masih menyisakan defisit, sehingga penyusunan RAPBD Perubahan 2026 perlu menyesuaikan berbagai pos anggaran yang terkait agenda prioritas dan kewajiban daerah.

Belanja Daerah RAPBD Perubahan 2026 Naik ke Rp11,837 Triliun

Dalam RAPBD Perubahan 2026, belanja daerah diproyeksikan mencapai Rp11,837 triliun. Angka ini meningkat sekitar Rp181,8 miliar dibanding target pada rancangan awal, menandakan ada penambahan kapasitas belanja untuk menampung kebutuhan yang berkembang selama periode berjalan.

Rudy menegaskan, kenaikan belanja bukan semata-mata memperbesar pengeluaran, melainkan diarahkan untuk memenuhi agenda prioritas pemerintah daerah. Penyesuaian juga dilakukan pada perubahan penjabaran APBD, sehingga struktur anggaran mengikuti kebutuhan riil pelaksanaan program dan kegiatan.

Selain itu, belanja disiapkan untuk menuntaskan kewajiban daerah terhadap kegiatan yang telah selesai. Ada pula pengaturan untuk kegiatan perpanjangan kontrak selama 50 hari, dengan catatan harus memperoleh persetujuan DPRD Kabupaten Bogor. Pemkab juga mengalokasikan belanja retensi berdasarkan hasil review Inspektorat, yang biasanya berkaitan dengan mekanisme pengawasan atas pelaksanaan pekerjaan atau evaluasi kemajuan kegiatan.

Defisit Rp449,642 Miliar: Penyebab Utama Masih Selisih Pendapatan dan Belanja

Meski terdapat penambahan pendapatan, Pemkab Bogor tetap memproyeksikan defisit. Rudy menyebutkan bahwa masih ada defisit antara pendapatan dan belanja daerah sebesar Rp600,049 miliar. Angka ini menggambarkan jarak yang belum tertutup sepenuhnya oleh pendapatan yang diproyeksikan.

Untuk mengurangi tekanan tersebut, Pemkab memasukkan komponen pembiayaan daerah sebesar Rp150,407 miliar. Pembiayaan neto ini berfungsi sebagai penyangga agar defisit akhir tidak sebesar selisih awal pendapatan dan belanja, sehingga setelah perhitungan pembiayaan neto tersisa defisit Rp449,642 miliar.

Dengan skema tersebut, pemerintah daerah menunjukkan adanya upaya menyeimbangkan anggaran melalui instrumen pembiayaan, namun tetap mengakui bahwa kebutuhan belanja yang lebih tinggi dibandingkan proyeksi pendapatan belum sepenuhnya tertutup.

Pendapatan Transfer Bertambah Rp351,968 Miliar, Termasuk Bonus Produksi

Dari sisi pendapatan, Pemkab Bogor mencatat kenaikan pada pos transfer sebesar Rp351,968 miliar. Kenaikan ini menjadi salah satu faktor yang membantu mengurangi tekanan fiskal, meski pada akhirnya tidak cukup untuk menutup seluruh selisih dengan belanja.

Rudy menyebut kenaikan transfer terutama berasal dari kurang salur dana bagi hasil hingga tahun 2024. Artinya, ada penyesuaian arus dana yang sebelumnya belum tersalurkan penuh, kemudian masuk dalam proyeksi pendapatan untuk periode perubahan anggaran.

Selain dana bagi hasil, terdapat tambahan bonus produksi dari Star Energy sebesar Rp5,8 miliar. Kombinasi beberapa komponen transfer ini memperkuat sisi pendapatan, tetapi proyeksi total tetap belum mampu mengimbangi besarnya belanja yang direncanakan dalam RAPBD Perubahan 2026.

Implikasi RAPBD Perubahan 2026 bagi Program dan Penetapan Anggaran

Dengan belanja yang naik dan defisit yang masih tersisa, RAPBD Perubahan 2026 mengindikasikan kebutuhan pemerintah daerah untuk menjaga keberlanjutan program tanpa mengabaikan kewajiban administrasi anggaran. Penambahan belanja untuk agenda prioritas biasanya berkaitan dengan penyesuaian target layanan publik, percepatan pelaksanaan proyek, serta penyesuaian terhadap perkembangan kebutuhan di lapangan.

Alokasi untuk kegiatan yang telah selesai dan mekanisme perpanjangan kontrak selama 50 hari juga menunjukkan bahwa pemerintah daerah berupaya meminimalkan risiko keterlambatan pekerjaan atau gangguan keberlanjutan layanan. Sementara itu, belanja retensi berdasarkan review Inspektorat menegaskan bahwa aspek pengawasan dan kepatuhan administrasi tetap menjadi bagian penting dalam penyusunan perubahan anggaran.

Namun, besaran defisit yang masih ada membuat proses pembahasan RAPBD Perubahan 2026 menjadi krusial. DPRD Kabupaten Bogor perlu memastikan bahwa pembiayaan neto yang diproyeksikan benar-benar mampu menjadi penyangga, sekaligus memonitor agar penambahan belanja tetap sejalan dengan prioritas dan kemampuan pendapatan daerah.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x