
INFOSENTULCITY.ID – Kemarau panjang mulai terasa dampaknya di Desa Pamijahan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Sebanyak 304 kepala keluarga atau 1.181 jiwa melaporkan kesulitan mendapatkan air bersih setelah sumber air dan sumur warga mengering. Kondisi ini muncul seiring menurunnya intensitas hujan di wilayah tersebut, sehingga pemenuhan kebutuhan harian warga ikut terganggu.

BPBD Kabupaten Bogor kemudian menindaklanjuti laporan warga melalui Tim Reaksi Cepat. Pada Minggu, 13 September 2026, bantuan air bersih disalurkan ke dua kampung yang terdampak dengan total 5.000 liter, atau satu ritase, untuk membantu kebutuhan sementara masyarakat.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, M Adam Hamdani, menjelaskan bahwa kekeringan terjadi akibat kemarau yang berlangsung cukup lama. Ketika sumber mata air dan sumur milik warga tidak lagi mampu mengalir, warga mengalami kekurangan air bersih setiap hari.
Warga yang terdampak tersebar di dua lokasi. Kampung Nangka Sari Tiga, RT 001/RW 001, tercatat sebanyak 150 KK atau 600 jiwa. Sementara itu, Kampung Nangka Sari Dua, RT 002/RW 001, dihuni 154 KK atau 581 jiwa. Dengan komposisi tersebut, gangguan air bersih tidak hanya memengaruhi satu kelompok kecil, melainkan cukup luas dalam skala komunitas.

Mengetahui kondisi tersebut, pemerintah desa mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada BPBD Kabupaten Bogor. Setelah laporan masuk, TRC BPBD melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan aparat setempat sebelum penyaluran dilakukan, agar distribusi bantuan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan di lapangan.
Adam menyampaikan bahwa bantuan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak kekeringan. Air kemudian disalurkan kepada warga di Kampung Nangka Sari Tiga dan Kampung Nangka Sari Dua. Proses penyaluran dilakukan secara terjadwal mengikuti hasil koordinasi lapangan, dengan fokus pada warga yang paling terdampak karena sumber air mereka tidak lagi berfungsi.
Pada pelaksanaan penyaluran terakhir, BPBD mendistribusikan 5.000 liter air bersih atau satu ritase ke dua kampung terdampak. Angka ini menjadi bentuk respons cepat agar warga tetap bisa memenuhi kebutuhan minum, memasak, dan kebutuhan rumah tangga dasar selama kondisi kekeringan belum mereda.
Di sisi lain, jumlah bantuan tersebut juga menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih saat kemarau tidak bisa diselesaikan dengan satu kali penyaluran saja, terutama jika sumber air warga terus mengalami penurunan debit. Karena itu, langkah lanjutan bergantung pada perkembangan kondisi di lokasi, termasuk apakah sumur dan sumber mata air mulai pulih atau masih tetap kering.
Adam menuturkan bahwa distribusi dilakukan atas arahan pihak desa untuk sementara waktu. Jika warga membutuhkan kembali, pemerintah desa dapat mengajukan permohonan bantuan air bersih ke BPBD untuk tahap berikutnya. Skema seperti ini penting karena situasi kekeringan kerap berubah mengikuti cuaca dan kondisi sumber air setempat.
Koordinasi antara desa dan BPBD menjadi kunci agar respons tidak berhenti pada satu kali penyaluran. Dengan adanya mekanisme asesmen TRC dan pengajuan lanjutan dari desa, penanganan bisa disesuaikan dengan tingkat kekurangan air yang dialami warga, termasuk penentuan waktu distribusi berikutnya.
Hingga penyaluran dilakukan, air bersih sudah didistribusikan kepada masyarakat di dua kampung tersebut.






Tidak ada komentar