Pemkab Bogor percepat pemadaman kebakaran TPAS Galuga lewat embung air

3 menit membaca View : 8
Abdul Halim
News, Peristiwa - 13 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Pemerintah Kabupaten Bogor menerapkan strategi khusus untuk mempercepat pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Kecamatan Cibungbulang. Memasuki hari kedelapan penanganan, Pemkab membuat sejumlah embung air sederhana di dalam kawasan TPAS agar sumber air bisa lebih dekat ke titik-titik api yang sulit dijangkau kendaraan pemadam kebakaran.

Langkah ini dilakukan dengan menyiapkan jaringan penyaluran air bertahap antar-embung menggunakan mesin Alkon, serta dukungan alat berat. Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menjelaskan sumber air ditarik dari titik awal berjarak sekitar 1 hingga 2 kilometer dari lokasi embung, kemudian dialirkan secara berurutan hingga mendekati area yang masih menyala.

Embung terpal dan mesin Alkon untuk jangkauan pemadaman

Dalam peninjauan penanganan kebakaran TPAS Galuga, Rudy Susmanto menegaskan bahwa strategi pemadaman tidak bertumpu pada mobil Damkar. Sebab, ada wilayah tertentu yang menjadi “titik paling ujung” dan tidak bisa diakses kendaraan pemadam karena kondisi medan. Akibatnya, pemadaman diarahkan memakai kombinasi embung yang sudah dibangun, mesin Alkon, dan bantuan alat berat.

Embung yang dibuat memiliki konstruksi sederhana dengan kedalaman sekitar 1 hingga 2 meter. Media penampung air menggunakan terpal, sehingga proses pengisian dan penyaluran air dapat dilakukan lebih cepat dibanding menunggu infrastruktur permanen. Dari embung yang satu, air kemudian disalurkan ke embung berikutnya, sehingga aliran air bisa menjangkau titik api yang berada di area lebih dalam atau terjepit medan.

Fokus wilayah timur TPAS Galuga yang sulit dijangkau

Rudy Susmanto menyebut strategi tersebut difokuskan pada wilayah timur TPAS Galuga. Di bagian ini, akses kendaraan pemadam dinilai terbatas, sehingga pemadaman tidak bisa mengandalkan satu metode yang sama di seluruh area. Pemkab memilih membangun beberapa titik embung sebagai “mata air bergerak” yang dapat dipusatkan mendekati sumber api.

Dengan pola penyaluran bertahap, petugas dapat menyesuaikan pengaliran air sesuai perkembangan titik kebakaran. Ketika api bergeser atau masih bertahan di beberapa titik, embung dan jalur distribusi air bisa diarahkan untuk mendukung proses pendinginan dan pemadaman lebih efektif.

Perkembangan luas kebakaran hingga hari kedelapan

Berdasarkan data awal yang disampaikan Rudy Susmanto, kebakaran bermula pada 7 September di lahan sekitar 5,5 hektare. Pada hari berikutnya, luasnya meningkat menjadi 8,4 hektare. Setelah dilakukan intervensi, luas kebakaran kemudian ditekan bertahap hingga berada pada kisaran 7 hektare, 6 hektare, lalu 5 hektare.

Memasuki hari kedelapan, kondisi di beberapa titik mulai membaik. Di wilayah utara, masih terdapat sekitar 1,4 hektare area yang perlu ditangani. Sementara di wilayah timur, tersisa sekitar 1.000 meter persegi. Adapun bagian selatan lokasi pembuangan sampah Kabupaten Bogor disebut sudah berhasil dituntaskan.

Penanganan 24 jam dan kerja tim gabungan

Rudy Susmanto juga mengapresiasi kerja keras tim gabungan yang terus melakukan penanganan selama 24 jam sehari. Penanganan berkelanjutan menjadi penting karena kebakaran di area TPAS kerap meninggalkan titik panas yang sulit terdeteksi, sehingga membutuhkan pemantauan dan pengendalian yang konsisten.

Ia berharap seluruh titik api dapat dipadamkan secara menyeluruh, mengingat proses yang sudah berlangsung hingga hari kedelapan. Harapan tersebut disampaikan saat penanganan masih berlangsung di berbagai titik, termasuk area yang sebelumnya dinilai paling sulit diakses.

Kenapa embung darurat efektif untuk kebakaran TPAS

Kebakaran di TPAS memiliki karakter yang berbeda dibanding kebakaran permukiman, terutama terkait hambatan akses dan kebutuhan distribusi air jarak dekat. Dengan membuat embung terpal di tengah kawasan, jarak tempuh air menjadi lebih pendek, sehingga proses pemadaman tidak terhambat keterbatasan alat dan medan.

Selain itu, pola penyaluran antar-embung memungkinkan petugas membangun “rantai suplai” air yang dapat diperpanjang sesuai kebutuhan lapangan. Dukungan mesin Alkon membantu mengalirkan air secara bertahap, sementara alat berat berperan untuk membantu akses dan penanganan area yang tidak mudah dijangkau.

Hingga saat ini, petugas gabungan masih terus berupaya memadamkan kebakaran di TPAS Galuga, dengan penyesuaian strategi pada titik-titik yang masih menyala.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x