Harga Pertamax berpotensi Rp18.000-Rp20.000 jika minyak dunia bertahan tinggi

4 menit membaca View : 8
Abdul Halim
Ekonomi, News - 12 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax kembali menjadi sorotan setelah harga minyak dunia menguat. Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menyampaikan bahwa jika tekanan harga minyak mentah global terus berlangsung, harga Pertamax dan produk sejenis berpotensi berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter. Pernyataan itu muncul dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat 11 September 2026, dan memunculkan pertanyaan besar bagi konsumen tentang arah harga BBM ke depan.

Meski demikian, Eko menegaskan angka Rp18.000 hingga Rp20.000 tersebut bukan keputusan kenaikan yang sudah diputuskan. Saat ini, harga Pertamax yang berlaku pada September 2026 masih berada di sekitar Rp15.950 per liter di sejumlah wilayah setelah penyesuaian pada awal September. Dengan selisih yang cukup lebar, publik perlu memahami pernyataan itu sebagai gambaran risiko harga, bukan angka resmi yang langsung berlaku.

Minyak dunia naik, proyeksi harga BBM nonsubsidi ikut menghangat

Kenaikan harga minyak dunia menjadi pemicu utama mengapa proyeksi BBM nonsubsidi kembali dibicarakan. Dalam beberapa waktu terakhir, kondisi geopolitik global, khususnya dinamika di Timur Tengah, turut memberi tekanan pada pasar energi. Akibatnya, harga acuan seperti minyak Brent sempat berada di atas US$100 per barel.

Hubungan antara harga minyak mentah dan harga BBM memang tidak selalu bergerak seketika. Dalam praktiknya, penyesuaian harga di tingkat konsumen dipengaruhi mekanisme penetapan harga dan kebijakan yang berjalan di dalam negeri. Artinya, ketika harga minyak global naik, dampaknya ke SPBU biasanya melalui proses perhitungan serta pertimbangan biaya lain yang melekat pada rantai distribusi.

Potensi Rp18.000 sampai Rp20.000 masih skenario, bukan keputusan

Di tengah pembahasan yang makin luas, penting membedakan antara skenario harga dan harga yang sudah ditetapkan. Eko Ricky Susanto menyebut kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter sebagai kemungkinan jika harga minyak dunia tetap tinggi dan belum menunjukkan tanda penurunan. Dengan bahasa yang lebih sederhana, ini adalah proyeksi ketika tekanan pasar energi tidak reda.

Untuk periode yang sedang berjalan, masyarakat tidak perlu menganggap Pertamax sudah resmi berada di level Rp20.000 per liter. Harga Pertamax pada September 2026 disebut masih sekitar Rp15.950 per liter di beberapa wilayah setelah adanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada awal bulan tersebut. Karena itu, angka yang disampaikan Eko lebih tepat dipahami sebagai batas atas risiko, bukan tarif baru yang otomatis berlaku.

Kenapa proyeksi ini relevan bagi konsumen dan pelaku usaha

Jika harga minyak dunia terus bertahan di atas US$100 per barel, tekanan terhadap harga BBM nonsubsidi akan semakin besar. Dampaknya tidak berhenti pada pengendara kendaraan pribadi. Energi juga memengaruhi biaya transportasi dan distribusi barang, sehingga kenaikan biaya bahan bakar berpotensi merembet ke harga kebutuhan dan ongkos logistik.

Bagi pelaku usaha, terutama yang bergantung pada mobilitas distribusi, kenaikan biaya energi dapat menekan margin operasional. Ketika biaya produksi dan pengantaran meningkat, perusahaan cenderung melakukan penyesuaian strategi, mulai dari efisiensi rute hingga peninjauan pola pengiriman. Pada gilirannya, aktivitas ekonomi dapat ikut terpengaruh karena perubahan biaya berjalan lebih cepat dari kemampuan penyesuaian pasar.

Pertamina minta warga tidak panic buying

Menjelang kemungkinan pembahasan lanjutan soal harga, Pertamina Patra Niaga meminta masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan. Eko menegaskan stok BBM di terminal maupun SPBU dalam kondisi aman. Permintaan ini muncul karena kekhawatiran konsumen sering kali memicu kepanikan, terutama ketika muncul informasi potensi kenaikan harga.

Panic buying dapat mengganggu ritme pasokan di lapangan. Saat permintaan melonjak secara mendadak, distribusi harus menambah penanganan untuk memulihkan keseimbangan stok. Dengan kondisi stok yang disebut aman, Pertamina mendorong pembelian sesuai kebutuhan agar rantai pasok tetap berjalan normal.

Yang perlu dicermati: perkembangan minyak dunia dan kebijakan harga BBM

Bagi masyarakat, fokus utama tetap pada dua hal: bagaimana perkembangan harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan, serta kebijakan penetapan harga BBM nonsubsidi yang berlaku. Jika tekanan harga minyak mereda, ruang penyesuaian bisa berubah. Sebaliknya, bila harga minyak global tetap tinggi, proyeksi risiko harga seperti kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter akan semakin relevan untuk dipantau.

Pada saat yang sama, penegasan Pertamina bahwa angka tersebut bukan harga resmi membantu meredam kesalahpahaman di lapangan. Dengan harga Pertamax yang pada September 2026 masih berada di sekitar Rp15.950 per liter di sejumlah wilayah, konsumen dapat menilai informasi yang beredar sebagai skenario, bukan kepastian tarif baru yang langsung berlaku.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x