
INFOSENTULCITY.ID – Pencarian terhadap delapan orang yang dilaporkan hilang kontak saat berada di speed boat di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten, memasuki hari kedua. Operasi SAR H2 terus diperluas dengan penambahan sejumlah Search and Rescue Unit (SRU) dan penyisiran di beberapa sektor, sementara pemantauan kondisi lingkungan juga dilakukan mengingat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Hingga laporan terbaru, hasil pencarian masih nihil. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menyampaikan bahwa tim mengoptimalkan seluruh unsur serta sarana yang terlibat, termasuk pembagian personel ke beberapa SRU agar cakupan pencarian lebih rapat dan terarah.
Memasuki hari kedua, pencarian tidak hanya berfokus pada satu titik. Tim SAR Gabungan membagi personel menjadi beberapa SRU di sejumlah sektor untuk memperluas area penyisiran. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan peluang menemukan tanda-tanda keberadaan korban, terutama di wilayah yang memiliki karakter perairan dan arus berbeda-beda.
Al Amrad menjelaskan bahwa seluruh sarana dan unsur yang terlibat dioptimalkan selama operasi berlangsung. Pembagian tim juga membuat proses pemantauan dapat dilakukan lebih sistematis, baik melalui penyisiran maupun pengamatan visual dari atas kapal.

Dalam operasi SAR H2, KN SAR Tetuka 247 melakukan penyisiran di Sektor 2 dengan total jarak 68,3 nautical mile (NM). Pada sektor yang sama, KAL Anyer menyisir area dengan total jarak 69,5 NM. Di Sektor 1, RIB 02 dan RIB 03 Lampung melakukan penyisiran sejauh 67 NM.
Rute penyisiran tersebut meliputi area sekitar Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, hingga kawasan Krakatau. Sejumlah SRU juga melakukan pemantauan visual di sekitar Gunung Anak Krakatau dan Rakata Besar, namun sampai saat laporan diterima, belum ada tanda yang mengarah pada keberadaan delapan orang yang masih dicari.
Selain penyisiran, kondisi vulkanik menjadi perhatian selama pencarian. Pada pukul 13.31 WIB, SRU 1 yang menggunakan KN SAR Tetuka 247 melanjutkan pencarian berdasarkan titik koordinat SAR Map. Dalam proses tersebut, Gunung Anak Krakatau terpantau mengeluarkan material debu vulkanik dengan intensitas cukup tebal.
Al Amrad menegaskan bahwa keselamatan personel tetap prioritas. Saat material debu vulkanik terlihat cukup tebal, tim tetap mempertimbangkan faktor keselamatan sebelum melanjutkan upaya pencarian. Dengan demikian, strategi di lapangan dapat disesuaikan mengikuti kondisi yang berubah.
Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri atas Warta (55), yang bertugas sebagai kapten kapal; Surakman (60), berstatus ABK; serta Heriyanto (49) yang disebut sebagai guide. Lima lainnya merupakan jurnalis, yaitu M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhis, Daus, dan Donal yang merupakan jurnalis freelance.
Pergerakan tim pada hari kedua juga melibatkan kapal-kapal yang menyasar sektor berbeda. Misalnya, RIB 02 Banten melakukan penyisiran di sepanjang Pulau Rakata dan Pulau Panjang, sementara KP Sanjaya menyisir Sektor 4 sejauh 67,3 NM. KRI Leuser dan KRI Lepu turut melakukan pencarian di sektor yang telah ditentukan.
Kondisi cuaca di wilayah pencarian terpantau cerah berawan. Angin bergerak dari arah selatan ke utara dengan kecepatan sekitar 14 knot, sementara tinggi gelombang berkisar 0,4 hingga 1 meter. Kondisi seperti ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenyamanan dan keselamatan saat kapal melakukan penyisiran dan pemantauan visual.
Operasi SAR H2 melibatkan unsur Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten dan Lampung, USS Pandeglang, USS Merak, TNI, Polri, BPBD, KSOP, potensi SAR, keluarga korban, nelayan, serta masyarakat. Sarana yang dikerahkan meliputi KN SAR Tetuka 247, KAL Anyer, KP Sanjaya, KRI Lepu, KRI Leuser, RIB 02 Banten, RIB 02 dan RIB 03 Lampung, drone thermal, serta peralatan SAR air, medis, komunikasi, dan pendukung lainnya.
Sampai pukul 15.22 WIB, SRU 5 yang menggunakan KP Sanjaya masih melakukan pencarian sesuai titik koordinat SAR Map dan belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban. Tim SAR Gabungan akan terus melakukan pencarian sambil mengevaluasi perkembangan operasi secara berkala, sehingga strategi berikutnya dapat ditentukan sesuai situasi di lapangan.






Tidak ada komentar