
INFOSENTULCITY.ID – RSUD Bakti Pajajaran Cibinong, Kabupaten Bogor, melaporkan peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan sesak napas sejak minggu terakhir Agustus 2026. Ketua Komite Medik RSUD Bakti Pajajaran, dokter H Masdi, menyebut kenaikannya mencapai sekitar dua kali lipat dibanding periode sebelumnya, berdasarkan evaluasi awal data pelayanan.

Dalam rentang 1-6 September 2026, RSUD mencatat 51 kasus dyspnoea atau sesak napas, 13 kasus ISPA, serta 71 kasus pneumonia dan bronkopneumonia. Meski demikian, pihak rumah sakit menegaskan peningkatan keluhan pernapasan belum bisa langsung dipastikan sepenuhnya dipicu paparan abu vulkanik, sehingga tetap diperlukan kajian lanjutan untuk melihat hubungan sebab-akibatnya.
Masdi menjelaskan bahwa pemantauan awal menunjukkan tren peningkatan mulai minggu terakhir Agustus 2026. Angka-angka yang terhimpun pada awal September menggambarkan dominasi keluhan yang berkaitan dengan gangguan pernapasan, terutama sesak napas, serta infeksi saluran napas bawah seperti pneumonia dan bronkopneumonia.
Menurutnya, pengelompokan kasus dalam data layanan membantu petugas medis menilai pola keluhan pasien. Dyspnoea menjadi indikator keluhan yang paling menonjol, sementara ISPA dan pneumonia atau bronkopneumonia menunjukkan bahwa sebagian pasien datang dengan kondisi yang mengarah pada infeksi pernapasan yang lebih berat.

Meski abu vulkanik disebut berpotensi menimbulkan atau memperburuk gangguan saluran pernapasan, RSUD Bakti Pajajaran belum menarik kesimpulan bahwa lonjakan kasus sepenuhnya berasal dari faktor tersebut. Masdi menegaskan bahwa peningkatan tidak otomatis berarti hubungan sebab-akibat yang tunggal.
Ia mengatakan untuk membuktikan keterkaitan secara lebih kuat diperlukan evaluasi lanjutan. Rumah sakit perlu melihat faktor lain yang mungkin ikut berperan, misalnya kualitas udara, kebiasaan aktivitas masyarakat, serta variasi kondisi kesehatan pasien sebelum datang ke fasilitas layanan.
Masdi mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada ketika kondisi udara masih berdebu. Paparan partikel dapat memicu iritasi hingga memperburuk gejala pernapasan pada sebagian orang, terutama mereka yang memiliki kerentanan tertentu.
Gejala yang disebut perlu diperhatikan meliputi batuk, pilek, rasa perih pada tenggorokan atau hidung, dada terasa tidak nyaman, mengi, hingga sesak napas. Pada kasus yang memburuk, gejala dapat berkembang menjadi kondisi yang memerlukan penanganan medis lebih cepat.
Rumah sakit menilai kelompok yang lebih rentan antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan asma, PPOK, penyakit paru kronis, dan penyakit jantung. Kerentanan ini membuat mereka lebih berisiko mengalami perburukan ketika terpapar partikel halus yang beredar di udara.
Imbauan yang disampaikan adalah mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara masih berdebu. Jika terpaksa harus keluar, masyarakat diminta menggunakan masker dengan benar. Untuk paparan partikel yang dinilai tinggi, penggunaan masker tipe N95 atau KN95 disebut memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap partikel halus.
Masdi juga menekankan agar pasien dengan asma atau PPOK tidak menghentikan obat rutin yang telah diresepkan dokter. Menghentikan terapi tanpa arahan tenaga kesehatan berpotensi memperbesar risiko kekambuhan dan memperparah gejala pernapasan.
Selain itu, RSUD mengingatkan tanda bahaya yang membutuhkan penanganan segera. Bila sesak napas semakin berat, mengi bertambah, sulit berbicara karena sesak, muncul nyeri dada, bibir tampak kebiruan, terjadi penurunan kesadaran, atau saturasi oksigen menurun, pasien diminta segera datang ke fasilitas pelayanan kesehatan atau instalasi gawat darurat.






Tidak ada komentar