
INFOSENTULCITY.ID – Masker medis mulai menjadi barang yang dicari warga Cibinong, Kabupaten Bogor, menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengirim abu vulkanik hingga ke wilayah tersebut. Lonjakan permintaan membuat beberapa apotek kehabisan stok sejak akhir pekan, sementara ketersediaan pengadaan dari gudang atau distributor masih terbatas.

Di Apotek K24 Sukahati, stok masker medis habis sejak akhir pekan. Pada Minggu, 6 September 2026, penjaga apotek menyatakan kondisi kosong sudah terjadi ketika ia mulai bertugas, sehingga tulisan pemberitahuan “Stok Masker Habis” dipasang untuk memberi informasi kepada masyarakat yang datang mencari.
Penjaga apotek, Adit, menjelaskan bahwa biasanya toko tersebut menyediakan lebih dari 10 boks masker medis. Jenis yang umum tersedia berupa masker medis berwarna biru dan hijau. Namun, tingginya permintaan membuat persediaan tidak bertahan lama, terutama sejak Minggu ketika banyak warga menanyakan ketersediaan masker.
Menurut Adit, dalam satu hari jumlah warga yang mencari masker bahkan disebut lebih dari 10 orang. Ia juga mengungkapkan bahwa ia tidak dapat memastikan kapan tepatnya stok mulai habis karena sebelum bertugas ia libur, tetapi saat mulai jaga kondisi sudah kosong.

Kondisi serupa terjadi di Apotek Alia Farma Sukahati. Penjaga apotek, Niska, mengatakan stok sempat benar-benar habis pada Minggu, tepat saat permintaan masyarakat mencapai puncaknya. Ia menuturkan, sejak apotek buka hingga tutup pada hari tersebut, banyak warga datang untuk mencari masker.
Niska menyebut apoteknya tidak menyiapkan masker dalam jumlah besar. Biasanya stok yang disiapkan berkisar tiga hingga lima boks untuk jenis masker medis yang umum digunakan. Karena lonjakan permintaan, stok yang tersedia habis pada siang hari, dan saat dibutuhkan warga, ketersediaan yang masuk kembali tidak banyak.
“Kehabisan stok. Sempat kehabisan stok kemarin. Cuma tadi dapat lagi, cuman enggak banyak juga,” kata Niska. Pada Senin, permintaan mulai menurun dibandingkan hari sebelumnya, meski warga masih berdatangan.
Beberapa jenis masker kembali tersedia di hari-hari berikutnya, di antaranya masker medis merek Sensi dan model duckbill. Namun, stok yang masuk masih terbatas sehingga tidak semua permintaan warga dapat langsung dipenuhi.
Dari informasi di apotek, masker kemasan kecil berisi tiga lembar dijual dengan harga sekitar Rp10 ribu. Sementara masker dalam kemasan boks berisi 50 lembar dipasarkan dengan kisaran Rp30 ribu hingga Rp35 ribu. Perbedaan harga ini turut memengaruhi pilihan warga, terutama ketika stok terbatas dan jenis tertentu lebih cepat habis.
Meski ada rencana untuk menambah stok, pihak apotek mengaku belum dapat memastikan kapan persediaan akan kembali normal. Pengadaan masker disebut bergantung pada ketersediaan barang dari gudang atau distributor. Karena pasokan masih terbatas, apotek tidak bisa melakukan pemesanan dalam jumlah besar.
Di lokasi lain yang juga mengalami penipisan stok, Diska menyampaikan bahwa jika ada barang, apotek akan tetap melakukan pemesanan, tetapi distributor disebut tidak selalu memiliki kuota yang cukup. Ia menambahkan bahwa kemungkinan pasokan dari distributor dibagi-bagi sehingga tiap apotek hanya menerima sedikit.
Diska menjelaskan, kondisi tersebut membuat apotek tidak leluasa melakukan penimbunan stok. Dengan alur distribusi yang terbagi, jumlah masker yang tersedia di masing-masing toko cenderung tidak banyak, sehingga warga tetap perlu memantau ketersediaan setiap kali datang.
Warga yang datang ke apotek pada hari-hari awal lonjakan permintaan terlihat berusaha mendapatkan perlindungan pernapasan seiring abu vulkanik yang terasa hingga wilayah sekitar. Di sisi lain, pihak apotek berharap situasi akibat erupsi segera mereda agar aktivitas masyarakat kembali berjalan dan pasokan kebutuhan pelindung pernapasan dapat lebih stabil.
Sejumlah penjaga apotek juga menilai, selama pasokan dari distributor belum lancar, ketersediaan masker akan cenderung fluktuatif. Pada saat stok kembali masuk, jumlahnya tidak selalu cukup untuk memenuhi permintaan yang sebelumnya sempat melonjak.






Tidak ada komentar