Dedie Rachim Terima Penghargaan Implementasi 3 Juta Rumah untuk Bedah Rumah Kota Bogor

4 menit membaca View : 9
Abdul Halim
News, Properti - 01 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Pemerintah Kota Bogor menerima penghargaan Terbaik Pertama tingkat kota dari Kementerian Dalam Negeri bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Penghargaan ini diberikan untuk kategori Implementasi Program 3 Juta Rumah melalui pelaksanaan bedah rumah, sebagai bagian dari upaya mempercepat akses hunian layak bagi masyarakat yang membutuhkan.

Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menerima apresiasi tersebut dalam kegiatan Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II di Bali pada Jumat, 28 Agustus 2026. Dalam penjelasannya, Dedie menekankan bahwa program perumahan di Kota Bogor tidak berdiri sendiri, melainkan diakselerasi lewat kombinasi bantuan pemerintah, skema pembiayaan alternatif, hingga penguatan program yang sudah berjalan.

Penghargaan bedah rumah, bagian dari implementasi 3 juta rumah

Penghargaan yang diraih Pemkot Bogor berfokus pada kategori implementasi program 3 juta rumah, khususnya melalui bedah rumah. Artinya, pendekatan yang dipakai bukan sekadar penyaluran bantuan, tetapi juga perencanaan yang lebih menyeluruh untuk memperbaiki kualitas hunian. Dedie menjelaskan, bedah rumah memungkinkan perbaikan yang lebih komprehensif dibanding skema perbaikan standar, karena cakupannya diarahkan pada aspek bangunan, seperti pencahayaan, sirkulasi udara, serta kualitas konstruksi.

Perbedaan pendekatan ini juga tampak dari besaran anggaran. Dedie menyebutkan, bila bantuan RTLH berada pada kisaran Rp7 juta hingga Rp11 juta, maka bedah rumah dialokasikan sekitar Rp100 juta. Dengan nilai tersebut, proses penanganan dapat dibuat lebih menyeluruh sesuai kondisi rumah penerima bantuan.

Rusunawa untuk akses hunian, menampung ratusan kepala keluarga

Selain bedah rumah, Pemkot Bogor juga mengembangkan skema hunian vertikal melalui rumah susun sewa (Rusunawa). Dedie menyampaikan bahwa Rusunawa ini ditujukan untuk membantu masyarakat kurang mampu, dengan kapasitas total mencapai 300 kepala keluarga yang tersebar di dua lokasi, yakni wilayah Menteng, Kecamatan Bogor Barat, dan Cibuluh, Kecamatan Bogor Utara.

Menurut Dedie, model sewa dinilai selaras dengan arah kebijakan pusat agar kebutuhan perumahan bagi masyarakat menengah ke bawah dapat diakselerasi. Ia juga menyebut respons masyarakat terhadap Rusunawa cenderung positif, karena skema ini memberi jalan untuk tinggal di hunian yang lebih layak tanpa harus langsung menanggung beban kepemilikan penuh.

RTLH 26.000 rumah, program berlanjut dan ditingkatkan

Pada periode 2019 hingga 2024, Pemkot Bogor melaksanakan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang telah memperbaiki sekitar 26.000 rumah. Dedie menegaskan bahwa perbaikan rumah ini tidak berhenti, melainkan terus dilanjutkan pada 2025 hingga 2026 dengan mengacu pada data dari tingkat wilayah serta Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Bogor.

Dalam praktiknya, kesinambungan program menjadi kunci karena kebutuhan di lapangan kerap berubah. Rumah yang sebelumnya belum tersentuh bisa saja mengalami penurunan kondisi, sementara rumah yang telah diperbaiki perlu dipastikan tetap layak dihuni. Karena itu, penguatan pendataan dan pemetaan kebutuhan menjadi bagian penting dari strategi Pemkot Bogor.

Kriteria penerima bantuan dan peran kelurahan, RT, RW

Dedie menyebutkan bahwa penetapan penerima bantuan bedah rumah mengacu pada kategori desil 1 hingga 5, serta harus memiliki alas hak yang jelas. Ia juga menegaskan perlunya keterlibatan aktif pemerintah daerah hingga tingkat kelurahan, termasuk RT dan RW, agar proses pemetaan berjalan tepat sasaran.

Pendekatan ini menempatkan pemerintah lokal sebagai penghubung utama antara program dan kondisi nyata di lingkungan. Dengan keterlibatan unsur paling dekat dengan warga, proses verifikasi kebutuhan dapat dilakukan lebih akurat, sehingga bantuan yang disalurkan benar-benar menjawab masalah hunian yang paling mendesak.

Pembiayaan CSR dan target hunian vertikal baru

Untuk memperluas daya dukung program, Pemkot Bogor juga membuka ruang alternatif pembiayaan melalui CSR. Dedie menyampaikan bahwa pada 2026, terdapat dukungan dari CSR Buddha Tzu Chi untuk membantu pembangunan rumah, dengan jumlah mencapai 204 unit. Skema semacam ini memperlihatkan bahwa target program tidak hanya bergantung pada satu jalur anggaran, melainkan dapat dipadukan dengan kolaborasi lintas pihak.

Di sisi lain, Pemkot Bogor juga menyiapkan empat titik lokasi yang diajukan kepada Kementerian PKP melalui bantuan dari Kemendagri untuk dibangun hunian vertikal. Dedie berharap, ketika hunian vertikal tersebut terealisasi, pemenuhan target 3 juta rumah akan semakin terasa manfaatnya bagi warga Kota Bogor. Ia meminta masyarakat bersabar karena pemerintah tetap bekerja menyusun dan menjalankan tahapan program.

Realisasi bantuan 2025-2026 dan capaian yang diakui pemerintah pusat

Untuk tahun 2025, Pemkot Bogor merealisasikan bantuan sosial RTLH, BST, dan BSTT kepada 2.122 rumah. Rinciannya, 257 rumah berada di kawasan kumuh dan 1.856 rumah berada di luar kawasan kumuh. Pada 2026, RTLH sebanyak 1.138 unit, terdiri dari 216 unit di kawasan kumuh, 922 unit di luar kawasan kumuh, serta 6 unit melalui program bedah rumah.

Selain itu, dukungan CSR pada 2026 mencakup 204 unit rumah. Dedie menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut dan menganggap penghargaan dari pemerintah pusat sebagai penyemangat bagi perangkat daerah serta masyarakat Kota Bogor yang mendukung pelaksanaan program perumahan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada dinas-dinas terkait dan pimpinan perangkat daerah, sekaligus menegaskan pentingnya konsistensi pemerintah dalam memastikan masyarakat Kota Bogor mendapatkan perhatian melalui program yang terus diperbaiki mengikuti kebutuhan zaman.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x