Bukit Manik Indonesia Pamijahan Bogor, jembatan kaca dan tiket Rp15 ribu

5 menit membaca View : 0 View
Abdul Halim
News, Wisata & Kuliner - 06 Okt 2026

INFOSENTULCITY.ID – Bukit Manik Indonesia di Pamijahan, Kabupaten Bogor, menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menggabungkan panorama hijau, wahana kekinian, hingga konsep pengelolaan berbasis koperasi. Lokasinya berada di Kampung Lokapurna, Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, dengan ketinggian sekitar 1.036 mdpl di kaki Gunung Salak, dekat kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Destinasi ini diresmikan pada 15 Januari 2025 oleh Menteri Koperasi RI saat itu, Budi Arie Setiadi. Salah satu daya tarik utama, jembatan kaca sepanjang 48 meter, resmi dibuka pada 15 Mei 2025, dan pengunjung dapat menikmati sensasi berjalan di atas lembah sambil melihat perbukitan hijau. Dengan tiket Rp15 ribu per orang, wisatawan bisa masuk kawasan utama sekaligus mencoba wahana jembatan kaca.

Lokasi dan suasana Bukit Manik Indonesia di Pamijahan

Bukit Manik Indonesia menyasar wisatawan yang ingin merasakan udara sejuk dan pemandangan perbukitan tanpa harus jauh dari Bogor. Kawasan seluas sekitar 2,1 hektare ini menawarkan suasana asri yang terasa lebih tenang dibanding hiruk-pikuk perkotaan, terutama saat akhir pekan. Letaknya yang berada di kaki Gunung Salak membuat bentuk lanskapnya didominasi kontur hijau, sehingga cocok untuk aktivitas santai sekaligus menikmati alam.

Untuk akses, nama Kampung Lokapurna di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, menjadi penanda penting bagi pengunjung yang datang dari arah Bogor maupun Jabodetabek. Ketinggian sekitar 1.036 mdpl turut memengaruhi pengalaman berwisata, karena cuaca cenderung lebih sejuk dan pemandangan dari titik tertentu terlihat lebih luas. Kondisi ini juga membuat Bukit Manik Indonesia relevan bagi keluarga yang mencari destinasi ramah untuk berbagai usia, termasuk untuk kegiatan foto bersama.

Jembatan kaca 48 meter, ikon yang jadi magnet wisatawan

Wahana yang paling sering dibicarakan adalah jembatan kaca sepanjang 48 meter. Jembatan ini membentang di atas lembah, sehingga pengunjung merasakan pengalaman berjalan sambil menyaksikan hamparan perbukitan dari ketinggian. Bagi banyak orang, sensasi melihat bagian bawah yang terbuka melalui lantai kaca menjadi daya tarik tersendiri, terutama ketika cuaca cerah.

Jembatan kaca ini dibuka sejak 15 Mei 2025. Sejak saat itu, wahana tersebut berkembang menjadi spot favorit untuk mengabadikan momen, baik untuk pengunjung yang datang bersama keluarga maupun rombongan teman. Keberadaan jembatan kaca juga memperkaya variasi aktivitas, karena pengunjung tidak hanya berkeliling menikmati lanskap, tetapi juga memiliki satu ikon yang bisa dicoba secara langsung.

Spot foto, area bersantai, hingga jalur jalan santai

Selain jembatan kaca, Bukit Manik Indonesia menyediakan berbagai spot foto yang dirancang untuk mendukung kebutuhan pengunjung saat berlibur. Ada area bersantai yang memungkinkan pengunjung menikmati suasana tanpa harus terus berpindah-pindah, termasuk saat ingin jeda setelah berjalan di sekitar kawasan.

Fasilitas pendukung lain berupa jalur jalan santai juga membuat destinasi ini lebih fleksibel untuk aktivitas ringan. Pengunjung bisa menyesuaikan ritme, apakah ingin sekadar menikmati udara sejuk sambil berjalan perlahan, atau lebih fokus pada pengambilan gambar di titik-titik tertentu. Kombinasi antara wahana, area duduk, dan ruang terbuka memberi alternatif hiburan yang tidak monoton.

Ada Kopikop, kafe kopi koperasi di dalam kawasan wisata

Pengalaman berwisata di Bukit Manik Indonesia juga dilengkapi dengan kehadiran Kopikop atau Kopi Koperasi. Kafe ini berada di dalam kawasan wisata dan dikelola oleh Kopmen BMI, dengan pembangunan yang melibatkan Koperasi Jasa BMI bidang konstruksi. Kehadiran kafe membuat wisatawan lebih mudah menikmati jeda, terutama saat ingin menghangatkan suasana atau sekadar berbincang setelah mencoba wahana.

Dari sisi menu, Kopikop menawarkan beragam pilihan minuman kopi khas Nusantara. Bagi pengunjung yang tidak mengonsumsi kopi, tersedia opsi non-kopi seperti teh, cokelat, dan minuman segar lainnya. Untuk makanan, tersedia menu ringan hingga hidangan berat yang dapat dinikmati sambil memandang perbukitan hijau, sehingga suasana makan terasa lebih “nyatu” dengan konsep wisata alam.

Menariknya, Kopikop tidak hanya berfungsi sebagai tempat nongkrong dan kuliner, tetapi juga dipakai sebagai ruang pertemuan dan diskusi. Ini memberi nilai tambah karena kawasan wisata tidak berhenti pada aktivitas rekreasi, melainkan juga membuka ruang kegiatan kelompok.

Tiket Rp15 ribu, rincian tiket kawasan utama dan jembatan kaca

Harga tiket menjadi salah satu pertimbangan penting bagi wisatawan. Untuk menikmati Bukit Manik Indonesia, pengunjung menyiapkan Rp15 ribu per orang. Dengan nominal tersebut, pengunjung bisa masuk ke kawasan utama sekaligus mencoba jembatan kaca.

Rinciannya, tiket kawasan utama sebesar Rp10 ribu dan tiket jembatan kaca Rp5 ribu. Skema ini membuat biaya berwisata terasa lebih terjangkau, karena pengunjung tidak perlu membayar terpisah jika ingin langsung mencoba wahana ikonik. Dengan harga tersebut, pengunjung dapat menikmati suasana alam pegunungan sekaligus mendapatkan pengalaman yang berbeda dibanding sekadar melihat pemandangan dari titik tertentu.

Dampak ekonomi kreatif dari konsep koperasi

Selain menawarkan tempat liburan, Bukit Manik Indonesia juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di sekitar lokasi. Peningkatan kunjungan wisatawan berpotensi membuka peluang bagi berbagai usaha, mulai dari penginapan atau homestay, kuliner, hingga pusat oleh-oleh. Dalam praktiknya, wisata yang ramai biasanya menciptakan efek lanjutan, karena kebutuhan pengunjung tidak berhenti pada tiket, tetapi juga mencakup transportasi lokal, makanan, dan kebutuhan selama berada di destinasi.

Kehadiran pengelolaan berbasis koperasi turut memberi warna pada model bisnis destinasi. Konsep ini terlihat dari keterlibatan koperasi pada aspek kuliner melalui Kopikop, serta pengembangan fasilitas di kawasan. Dengan begitu, Bukit Manik Indonesia tidak hanya menonjol sebagai wisata alam dengan wahana kekinian, tetapi juga sebagai contoh bagaimana koperasi dapat berperan dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x