Re{form} Zara Volume 1 Kolaborasi Zara dan John Galliano Dirilis 1 Oktober 2026

4 menit membaca View : 2
Abdul Halim
Gaya Hidup, News - 07 Okt 2026

INFOSENTULCITY.ID – Zara merilis koleksi kolaborasi dengan John Galliano bertajuk Re{form} Zara Volume 1 pada Kamis, 1 Oktober 2026, bertepatan dengan Paris Fashion Week. Proyek ini sudah lebih dulu diumumkan sejak Maret, sempat memicu perdebatan, dan kini kembali menarik perhatian karena desainnya mengusung pendekatan arsitektural, distorsi bentuk, serta detail yang sengaja ditonjolkan.

Dalam kerja sama yang disebut berlangsung sekitar dua tahun, Galliano melakukan re-author, yakni menyusun ulang busana dari arsip lama brand high-street asal Spanyol. Gagasan utamanya adalah mendekonstruksi dan merekonfigurasi koleksi lampau menjadi kreasi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan musim, lalu ditampilkan dalam format busana siap pakai yang tetap bisa dikenakan langsung.

Re{form} Zara Volume 1: distorsi teatrikal ala Galliano di fast-fashion

Begitu koleksi mulai diperkenalkan, karakter desain Galliano terlihat dari cara potongan dibuat tidak simetris dan efek distorsi yang lebih kuat dibanding ekspektasi banyak orang terhadap produk mode siap pakai. Koleksi ini tidak berhenti pada tampilan “pakai dan jadi”, melainkan mengemas pengalaman visual yang terasa seperti panggung, seolah elemen drama high-fashion diterjemahkan ke dalam gaya produksi massal.

Di beberapa item, permainan material berbasis lace hadir melalui teknik layering atau pelapisan. Hasilnya bukan hanya tekstur yang tampak bertumpuk, tetapi juga dimensi yang memberi kesan gerak ketika busana dikenakan. Ada pula nuansa rujukan era kejayaan Dior pada masa Galliano, terutama saat detail klasik dipotong ulang, lalu diracik ulang menjadi versi yang terasa lebih modern dan berlapis.

Jahitan didekonstruksi, detail underwear jadi bagian dari estetika

Salah satu bagian yang paling sering dibicarakan adalah keputusan untuk membuka struktur yang biasanya disembunyikan. Pada beberapa desain, potongan dan konstruksi tampak sengaja dibuat agar jahitan dalam terlihat, termasuk kesan overlay yang mengarah pada detail underwear. Pilihan ini membuat koleksi terasa lebih berani, karena fokusnya tidak hanya pada permukaan, melainkan juga pada logika bentuk.

Namun, keberanian gaya tersebut juga bersinggungan dengan latar karier Galliano yang pernah menjadi sorotan besar di dunia mode. Saat kolaborasi ini diumumkan, muncul kritik yang mengaitkan proyek dengan reputasi Galliano sebagai desainer high-fashion serta rekam jejaknya yang pernah menimbulkan kontroversi publik, termasuk peristiwa yang berkaitan dengan komentar antisemitisme.

Respons publik terbagi: desain dipuji, akses belanja memicu kekecewaan

Setelah koleksi Re{form} Zara Volume 1 benar-benar dirilis, respons yang muncul tidak hanya negatif. Sejumlah pengamat menilai desainnya berhasil menghadirkan “rasa Galliano” yang khas, mulai dari distorsi bentuk hingga konsistensi detail didekonstruksi. Bagi sebagian penonton, pendekatan ini terasa seperti penerjemahan gaya high-fashion ke format yang lebih mudah dijangkau.

Meski begitu, isu paling cepat memicu kekecewaan datang dari aspek praktis: akses pembelian. Pembelian langsung di toko disebut hanya bisa dilakukan di Zara London (Inggris) dan Zara Madrid (Spanyol). Di luar dua lokasi tersebut, koleksi dengan rentang harga US$ 29 hingga US$ 999 hanya dapat diperoleh melalui situs Zara, sehingga memunculkan frustrasi bagi calon pembeli yang menunggu ketersediaan di negara lain.

Pop-up di Paris jadi ruang melihat langsung saat Paris Fashion Week

Untuk menampung antusiasme, Zara membuka instalasi pop-up di Paris, Prancis. Kehadiran pop-up ini muncul beriringan dengan euforia Paris Fashion Week, ketika perhatian publik sedang terserap ke rangkaian peragaan busana dan berbagai agenda mode. Bagi sebagian penggemar Galliano, pop-up tersebut juga dipandang sebagai pengganti suasana setelah rencana pameran berskala besar di MET dibatalkan.

Dalam praktiknya, pop-up memberi kesempatan melihat koleksi secara langsung, tetapi tetap menunjukkan keterbatasan akses yang tidak seragam. Di satu sisi, daya tarik desainnya kuat dan memicu diskusi; di sisi lain, pilihan distribusi yang terbatas membuat pengalaman konsumen berbeda-beda tergantung lokasi.

Arsip high-fashion bertemu ekosistem fast-fashion

Kolaborasi ini juga memperlihatkan cara industri mode memanfaatkan nama besar high-fashion untuk menciptakan percakapan luas ketika bertemu ekosistem fast-fashion. Dengan konsep re-author, Zara tidak sekadar menempelkan gaya, melainkan mencoba memproses ulang arsip melalui proses kreatif yang menekankan dekonstruksi dan rekonstruksi.

Foto-foto koleksi juga diunggah pada hari yang sama di Instagram, menampilkan hasil bidikan fotografer fashion Steven Meisel. Langkah visual seperti ini ikut memperkuat narasi kolaborasi, karena publik tidak hanya menilai busana dari potongan dan detail, tetapi juga dari bagaimana koleksi itu dipotret dan diposisikan sebagai karya dengan nuansa teatrikal.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x