Akses Jembatan Wika Gunung Putri-Klapanunggal Dialihkan saat Luapan Cileungsi

4 menit membaca View : 6
Abdul Halim
News, Peristiwa - 22 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Persoalan akses warga di sekitar Jembatan Wika atau Jembatan Kedep, perbatasan Kecamatan Gunung Putri dan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, kembali menjadi sorotan setelah jembatan darurat yang biasa dipakai sepeda motor sempat ditutup akibat luapan Sungai Cileungsi. Kondisi ini muncul menyusul hujan deras yang membuat debit sungai meningkat dan meluap, sehingga lintasan sementara yang selama ini membantu mobilitas masyarakat terasa makin berisiko.

Camat Gunung Putri, Kurnia Indra, menegaskan pihak kecamatan tidak merekomendasikan warga menggunakan jembatan darurat di area proyek rekonstruksi Jembatan Wika. Menurutnya, akses utama masih berada dalam tahap pengerjaan, sehingga pergerakan kendaraan sementara dialihkan melalui jalur alternatif yang telah direkayasa bersama instansi terkait.

Jembatan darurat ditutup setelah luapan Sungai Cileungsi

Penutupan akses darurat terjadi setelah hujan deras pada Sabtu, 19 September 2026, menyebabkan debit Sungai Cileungsi naik dan meluap. Saat arus meningkat, jembatan darurat yang menjadi jalur penyeberangan sepeda motor dinilai tidak aman untuk dilintasi. Sehari kemudian, perhatian kembali muncul setelah jembatan darurat tersebut dilaporkan mengalami kerusakan akibat diterjang arus.

Di lapangan, warga bahkan sempat turun tangan melakukan perbaikan secara gotong royong. Akses itu diketahui menjadi jalur penting untuk aktivitas harian, termasuk pergerakan pekerja dan anak sekolah di sekitar lokasi. Namun, perubahan debit sungai akibat hujan di wilayah hulu membuat kondisi melintasi jalur sementara tidak selalu sama dari waktu ke waktu.

Kecamatan tidak merekomendasikan penggunaan akses sementara

Kurnia menjelaskan bahwa jembatan darurat yang sempat digunakan bukan akses yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Akses sementara tersebut, kata dia, sebelumnya dibuat melalui koordinasi dengan pihak kontraktor untuk membantu mobilitas warga di sekitar area proyek.

Meski begitu, Kurnia menilai keberadaan akses darurat tetap menyimpan risiko, terutama saat debit sungai meningkat. Ia menegaskan secara teknis keselamatan jalur harus ditangani pihak yang memiliki kewenangan dan kompetensi, sehingga warga tidak semestinya menjadikan akses sementara sebagai pilihan utama saat kondisi sungai berubah.

Ia juga menegaskan bahwa proses rekonstruksi Jembatan Wika masih berlangsung, sehingga keputusan penggunaan akses sementara berada pada mekanisme kewenangan pembangunan. Dalam pandangannya, jembatan darurat yang dibuat pun pada dasarnya tetap terkait konstruksi dan keamanan teknis yang menjadi tanggung jawab pihak PU yang membangun.

Rekayasa lalu lintas diberlakukan untuk kendaraan dan warga

Sambil menunggu rekonstruksi selesai, Camat Gunung Putri meminta masyarakat mengikuti rekayasa lalu lintas yang disiapkan pemerintah bersama kepolisian, Dinas Perhubungan, serta instansi teknis. Arahan ini penting agar arus kendaraan tidak menumpuk di titik yang berpotensi membahayakan, terutama ketika kondisi sungai berubah cepat akibat hujan.

Untuk kendaraan berukuran besar, pengalihan dilakukan melalui jalur alternatif yang telah ditentukan. Sementara itu, masyarakat yang hendak menuju kawasan Nambo diminta menyesuaikan rute sesuai arahan petugas di lapangan. Kurnia menekankan bahwa rekayasa tersebut melibatkan pihak berwenang, sehingga warga diminta tetap mengikuti rute yang sudah diarahkan dari awal.

Rekonstruksi Jembatan Wika dan penghubung Gunung Putri-Klapanunggal

Jembatan Wika atau Jembatan Kedep merupakan penghubung Kecamatan Gunung Putri dan Klapanunggal pada ruas Jalan Cileungsi-Cibinong. Jembatan ini sedang menjalani rekonstruksi total karena kondisi dinilai sudah tidak layak. Proyek rekonstruksi dijadwalkan berlangsung hingga akhir Desember 2026 dengan nilai anggaran sekitar Rp45,98 miliar, dikerjakan oleh PT Tri Manunggal Karya.

Selama masa pembangunan, pemerintah sebelumnya telah menyiapkan rekayasa lalu lintas untuk menjaga kelancaran pergerakan warga. Kendaraan kecil diarahkan melalui sejumlah jalur alternatif, sedangkan kendaraan sedang dan besar diarahkan melalui jalur Cileungsi-Cibubur. Pengaturan semacam ini menjadi penopang penting agar aktivitas harian tetap berjalan, sementara pekerjaan rekonstruksi berlangsung dan kondisi lintasan darurat tidak selalu terjamin saat debit sungai naik.

Warga diingatkan membaca kondisi debit saat hujan di hulu

Kurnia menyampaikan bahwa debit Sungai Cileungsi menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan menggunakan akses sementara. Dalam kondisi normal, ketinggian air relatif rendah, berkisar 10 hingga 20 sentimeter, bahkan bisa mencapai 30 sentimeter pada kondisi tertinggi.

Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi dapat berubah secara cepat ketika hujan terjadi di wilayah hulu. Karena itu, penggunaan akses saat debit meningkat berpotensi menimbulkan risiko keselamatan. Ia menegaskan warga sebaiknya tidak memaksakan melintasi jalur sementara ketika ada tanda kenaikan debit sungai, mengingat arus bisa berubah dalam waktu singkat.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x